What A Different Red And Green?

Diberdayakan oleh Blogger.

Minggu, 24 Juli 2016

Seberapa Tinggi Harga Dirimu Hingga Mampu Merendahkan Dirimu?



"Gue gak terima Diginiin!! Gue juga punya Harga Diri!"
Sebuah kalimat yang sering kali kita dengar pada saat orang-orang merasa direndahkan ataupun diremehkan oleh orang lain, ya sebuah ungkapan yang terucap dengan 1 oktaf yang lebih tinggi karena merasa tidak dihargai maupun diabaikan, namun apakah sebuah ungkapan emosi panas mampu mencairkan suasana yang tegang menjadi lembut dan hangat? saya rasa tidak. sedikit tulisan ini mungkin akan membantu kamu mengenal harga dirimu dengan pemahaman yang tepat. Let's roll it! 

Seberapa Tinggi Harga Diri Yang Dipertahankan Hingga Membuatmu Menjadi Arogan?



Seberapa tinggi harga diri yang dipertahankan? hingga membuat suatu permasalahan yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan kerendahan hati namun harus diselesaikan dengan sebuah cekcok mulut yang tiada akhir yang berujung menjadi dendam hati yang terpendam. Seringkali ketinggian harga diri mendasari sikap acuh tak acuh terhadap orang lain dan merasa arogan serta sombong memicu seseorang untuk tidak menghargai diri orang lain bahkan termasuk dirinya sendiri. 


Menghargai Orang Lain Lebih Baik Daripada Menjunjung Harga Diri Yang Berlebihan.



Menjunjung harga diri ya boleh-boleh saja asal jangan berlebihan sampai kamu lupa untuk menghargai orang lain ada pepatah mengatakan "Hargailah orang lain agar dirimu dihargai oleh orang lain juga..", sebelum belajar untuk menghargai diri sendiri prosedur pertama yang harus dilakukan adalah belajar untuk menghargai orang lain dilingkungan sekitar anda dan tentunya tidak mendiskriminasi dan memilih-milih karena seutuhnya semua orang diciptakan sama hanya ego saja yang membedakan.

Merendahkan Hati Bukan Berarti Harga Dirimu Jadi Rendahan.



Meskipun penilaian orang lain terhadap kamu sudah dianggap mampu menjaga harga diri dengan baik bukan berarti membuat anda boleh tinggi hati dan mulai membanding-bandingkan dengan mereka yang bisa dikatakan tidak menjaga kehormatannya dengan baik, justru sebaliknya tetap jadi pribadi rendah hati dan peduli kepada mereka, ya meskipun diantara mereka pernah meninggalkan jejak dalam merendahkan anda tetaplah berendah hati karena sesungguhnya anda tidak menjadi rendah, tetapi anda dilatih untuk memiliki kualitas sesungguhnya dari sebuah harga diri yang anda miliki.

Dengan Memaafkan, Kamu Telah Memperoleh Kualitas Harga Diri Yang Tak Ternilai.



Seringkali dihidup ini ada beberapa orang yang pernah menyakiti, melukai bahkan menghancurkan harga diri anda, kadang marah dan pembalasan seakan menjadi satu-satunya jalan untuk melepaskan pelampiasan yang tak bearti, tapi jika kamu mampu memaafkan mereka, tanpa disadari kamu telah mengupgrade harga dirimu menjadi suatu kualitas yang tak ternilai harganya sama halnya dengan sebuah bongkahan berlian yang diasah berkali-kali hingga menjadi suatu perhiasan yang memiliki nilai tinggi, sejatinya belajar memaafkan bukan berarti anda adalah orang yang lembek justru itu membuatmu dinilai oleh orang lain bahwa kasihmu terhadapnya jauh lebih besar dari rasa bencimu.

Harga diri itu penilaian! bukan label harga yang tertera.


Pemahaman yang tepat mengenai harga diri adalah penilaian. Penilaian seseorang terhadap diri kita, jika kita menampilkan segala bentuk negatif karena over self esteem yang mendasari Arogan, Tinggi Hati, dan Kesombongan maka secara tanpa rekayasa orang-orang disekitar akan menilai rendah harga diri kita dan sebaliknya jika bentuk positif yang ditampilkan seperti Kerendahan Hati, Pemaaf, dan Menghargai orang lain akan menjadi landasan kita untuk dinilai orang lain bahwa kita telah menjaga kehormatan maupun harga diri dengan baik. Jadi seberapa tinggi harga diri yang anda miliki? jawabannya, Priceless.

Kamis, 21 Juli 2016

What A Different Red And Green?


"Eh main tebak-tebakan yuk?"
"Ayuk! Kamu kasih petunjuk biar aku yang nebak."
"Iya, Nih petunjuknya.. Kakinya ada 1, matanya ada 3, matanya ada warna merah, kuning, dan hijau. hayoo apa itu?"
"Hmmm... Ah aku tahu aku tahu itu Lampu Lalu Lintas!"

Begitulah permainan tebak-tebakan saya waktu masih menjadi manusia yang dikategorikan bau kencur. mengenai tebak-tebakan tadi yang bertema Lampu Lalu Lintas menginspirasi saya untuk membuat tulisan ini khusus untuk anda dan juga saya sendiri tentunya, saya menjadi teringat beberapa kejadian yang sering kali terjadi di perempatan jalan yang sedikit beringas, kenapa beringas? ya kita tahu sendiri sekarang aturan-aturan yang berlaku sudah sering dilanggar oleh beberapa orang termasuk saya sendiri dulunya. Lampu lalu lintas kini hanya sebagai tiang hiasan jalan di setiap perempatan, beberapa pengguna jalan sudah tidak mengenal lagi arti dari sebuah warna di tiang tersebut, seakan-akan mata mereka semua buta akan warna dan tak lagi bisa membedakan 2 warna yang cukup berbeda secara signifikan ini.

Yang kiri Apel Hijau dan yang kanan Apel Merah.

Sudah baca caption di foto tersebut? pasti terlintas dibenak anda, "Captionnya salah! yang kiri Merah yang kanan baru hijau", jika ada berpikir seperti itu lantas saya ucapkan selamat berarti mata anda masih baik-baik saja, namun jika anda baru menyadari kesalahan dicaption saya, berarti anda butuh sebotol Aqua. saya rasa semua orang pasti bisa membedakan 2 warna ini dan yang jadi pertanyaan, mengapa tidak bisa membedakan 2 warna ini khususnya di Lampu lalu lintas? saya rasa semua orang sudah belajar mengenai ini dan tidak perlu sampai orang lain menjelaskan bahwa Lampu Merah yang berarti berhenti, Lampu Hijau berarti Jalan, dan Kuning yang berarti Hati-hati, ketika di otak kita sudah terekam mengenai arti dari ketiga lampu ini, lantas kenapa masih saja banyak pengendara yang masih saja melanggar lampu lalu lintas, dan saya pernah bertanya kepada teman-teman saya yang rata-rata adalah pengendara kendaraan bermotor, saya bertanya "kenapa anda melanggar lalu lintas?' dan jawaban yang saya dapat beragam jenis;

"Terpaksa melanggar karena pingin cepat.", iya sih cepat, tapi mau cepat mati juga?

"Eh ngelanggar sih, soalnya biasa udah telat." kalau telat yang bangun lebih awal, emang mau kecelakaan lalu gak bangun lagi?

"Gak ada polisi ya langgar ajaa." Kalau ketahuan? kemudian ditilang sama polisi dan di denda barulah fotoin petugas polisi dan post di media sosial kemudian kasih keterangan "Polisi makan duit rakyat!"

"Peraturan ada kan untuk dilanggar bos!" kalau gitu istri anda dilecehkan orang lain gak apa-apa dong, kan aturan ada untuk dilanggar.

4 alasan freak! yang sering saya temui dalam mempertanyakan hal seputar melanggar lalu lintas, bagaimana bisa anda menasehatkan anak anda untuk tidak melanggar sedangkan anda sendiri melakukan hal tersebut, ingatlah perilaku dan sikap kita merupakan sebuah contoh yang bakal terekam dipikiran sang anak, apa yang kita contohkan akan ditiru oleh mereka. kita butuh sebuah kesadaran terhadap hal ini, sadar akan bahaya dari melanggar lalu lintas, namun sayangnya kesadaran yang masih kurang terhadap bahayanya akibat dari melanggar lalu lintas. Salah satu akibat dari melanggar lalu lintas adalah kecelakaan. Kecelakaan merupakan pembunuh no 3 di Indonesia setelah penyakit jantung dan stroke, penyebab kecelakaan itu banyak faktor, faktor dari kondisi jalan, faktor alam, dan faktor kelayakan kendaraan. Tapi faktor pemicu yang membuat kecelakaan ini menjadi salah satu dari 3 finalis pembunuh adalah kelalaian manusia. Padahal manusia dikaruniakan sebuah pikiran yang dapat bekerja dengan baik dan tentunya digunakan untuk berpikir, tapi kenapa tidak mau berpikir akan bahaya dari melanggar hal ini? tiap tahunnya 28 ribu orang tewas karena kecelakaan, yang tewas kalau gak nabrak yang ditabrak sama pelanggar lalu lintas, ironis bukan. Dari segi sensus sih pelanggar-pelanggar ini membantu pemerintah dalam menangani kepadatan penduduk di Indonesia, namun apabila yang berkurang itu termasuk salah satu dari keluarga kita gimana? ya minimal anda akan menangis. Saya kerap kali merasa risih terhadap beberapa pengendara yang bisa saya katakan tidak mengerti akan rambu-rambu lalu lintas, selalu saja ketika lampu lalu lintas berwarna merah dan angka detik menunjukkan 4-5 detik lagi menuju lampu hijau, mereka sudah merasa gak sabaran dan mulai mengklarkson pengendara didepan, saat itu saya menjadi kesal dan sangat menganggu, ingin rasanya saya berkata "kalau mau duluan silahkan pak, resiko tanggung sendiri." saya rasa 5 detik bukan merupakan waktu yang lama kenapa gak bisa menunggu sedikit lagi? kadang hidup tak sebercanda itu teman, marilah kita tanamkan sebuah kesadaran untuk tertib berlalu lintas karena dari diri sendiri orang lain juga akan ikut tergerak untuk mematuhi. semoga tulisan saya kali ini bermanfaat untuk meningkatkan kesadaran anda, dan mohon maaf apabila ada kata-kata yang kurang berkenan di mata anda. Terima kasih!

Selasa, 19 Juli 2016

Gaya Hidup Anak Sekolah Dulu Dengan Sekarang



Lucu ya hari ini tepatnya tanggal 18 Juli 2016 anak-anak sekolah sudah memulai kembali aktivitas sekolah seperti biasa, dan mereka juga pasti ada yang merasa seperti ini, "liburan sudah habis, waktunya belajar lagi",  "Ah liburannya masih belum cukup!!, "yeey asik bisa ketemu teman-teman dan selfie bareng", "huahaha sekarang saya udah jdi senior, gebetin junior dulu. (Padahal tampang kayak pantat bajaj)"


Kata pertama dari ketikan saya kali ini adalah Lucu, nah apa sih yang lucu? Setelah saya lihat beberapa postingan dan juga status mereka terasa sekali, saya seolah-olah masuk kembali ke dalam dunia nostalgia waktu sekolah dulu, thank you guys!. Dan disini saya melihat adanya perbedaan yang cukup signifikan antara yang dulu sama sekarang dan jika dibandingkan terlihat lucu juga, mulai dari Status, pakaian, makanan/minuman, dan lain-lain. saya akan coba sajikan satu persatu.

1. Status Updates.

Dulu waktu sekolah bisa update status di Facebook aja udah berasa senang banget, kayak tembus nomor togel 4 angka! kenapa seperti itu? karena dulu menjangkau internet sangat sulit dan kalau mau main Facebook mesti ke warnet tunggu berjam-jam hanya untuk update status, orang-orang kelahiran 93', 94', 95' tahu nih. Dulu belum ada yang namanya smartphone yang ada cuma stupidphone yang kalau dipake lempar anjing, anjingnya yang tewas. smartphone yang lagi trend saat itu hanya handphone bermerek Blackberry yang dulu dikatain sebagai handphonenya para artis (namun sekarang Blackberry bagaikan istri pertama yang di nomor duakan). Bagaimana dengan anak-anak zaman Sekarang? 10 menit bisa update 15 status, luar biasa! itu update status atau mau bikin molen pisang.


Dan biasanya statusnya itu tertulis tentang curhatan, doa-doa dan yang lebih sering cari perhatian. Nah cari perhatian ini sering banget dilakukan lewat status, mereka bahkan seperti haus akan sebuah perhatian bahkan rela mengemis perhatian, terutama perhatian terhadap lawan jenis. Bahkan ada yang sampai over cari perhatian, seperti mereka upload foto ataupun update status dan kemudian dia ngetag ke seluruh temannya (kalau nenek gua maen fb mungkin ikut ke tag juga) supaya dapat banyak like, komentar, dan terutama diperhatiin, dan parahnya lagi biasanya mereka tuh akan kasih kiriman tertulis seperti ini "Please like dan komennya ya..." kok jadi kayak ngemis ya? Contoh kecil juga, mereka upload foto selfie mereka yang sudah diseleksi dari jutaan foto di galeri dan kemudian dikasih keterangan "lagi jelek-jeleknya." berharap ada yang komentar gini, "gak jelek kok itu cakep" kemudian di balas "ih gak cakep itu jelek aa", dibalas lagi "gak jelek, cakep kok", "ih jelek aaa", begitu seterusnya sampai Jco jualan apam pinang rasa kulit manggis.

2. Style Uniform.

Lalu anak-anak zaman sekarang itu udah cool banget (saya bohong) kalau dilihat dari segi gaya berpakaian seragam, dari siswi-siswi yg udah suka pake celana di banding rok, dan mungkin siswa-siswa udah suka pake rok di banding celana, bisa jadi. Ironis sekali ya siswi-siswi yang sudah lebih memilih celana untuk menjadi style mereka dalam berbusana di sekolah, saya sedikit merasa kasihan sama siswa-siswa sekarang, kenapa? Karena kalau dulu siswi yang menggunakan rok itu terlihat lebih cantik, feminim, bahkan enak di pandang apabila resleting belakangnya lupa ditutup, dan sayangnya hal ini gak bisa terjadi lagi waktu sekarang, bukan rejeki kali yaa.

3. Food And Beverages.

Lalu dari segi gaya makan maupun minum, siswa/i sekarang makannya kelas kakap seperti burger, pizza sandwich, dan masih banyak yang gak saya ketahui, kalau dulu beli 1 buah kroket aja udah pada rebutan bahkan sampai bergulat di kantin, minuman yang ditenteng kemana-mana berlogo internasional seperti starbucks, asli premium banget. dulu bisa nenteng es tebu aja udah berasa kayak anak presiden, serius!

4. First Day Back To School.

Terus hari pertama masuk sekolah biasanya identik dengan wali kelas baru, dulu kalau dapet wali kelas kece palingan asyiknya cuma sama teman-teman sekelas, nah sekarang? Dapet wali kelas kece, dimasukin ke status disebarin ke dunia maya maupun dunia lain biar orang semua tahu dia punya wali kelas kece, beruntung banget tuh wali kelas, dipromosiin. selain itu yang sering terjadi waktu pertama masuk sekolah adalah murid-murid yang baru saja menyandang pangkat "kakak kelas" dengan begitu lagaknya dia berjalan-jalan bersama gerombolannya didepan adik-adik kelas sambil melirik mana target yang bisa digebet, mau sekolah atau cari jodoh?

Sungguh perbedaan yang unik sekali antara dulu dan sekarang tak bisa dipungkiri juga karena gaya hidup yang jelas sudah berubah hari demi hari, but it isn't problem. Labil itu merupakan suatu proses anak manusia menuju kedewasaan tapi labil lah dalam batas yang wajar dan jangan sampai overdosis, sadarilah kegiatan yang dilakukan kalau bisa jangan membuat orang lain terganggu seperti melakukan Broadcast Message Promotion PIN yang dalam 1 jam promosiin PIN teman-temannya sampai 10 kali (ini sudah terbukti dan saya yang jadi korban). Segala sesuatu akan selalu berubah, dan yang paling penting bagaimana kita bisa menghadapi perubahan tersebut. kalau saya menghadapinya dengan cara, mengetik bacotan ini.

Sabtu, 16 Juli 2016

Mengejar Angkot Di Kota Hujan


Kota Bogor menjadi destinasi kedua pada liburan saya kali kemaren bukan kali ini, di Bogor saya gak tahu ada apa disana ya palingan yang sering saya dengar itu disana ada beberapa tempat penginapan di puncak yang mungkin biasa saja hanya sedikit dingin, pada malam sebelumnya kami sudah searched beberapa taman wisata di Bogor dan hati kami jatuh kepada salah satu taman wisata bernama Matahari (karena murah).


Wahana Taman Wisata Matahari

Disana terdapat banyak wahana hiburan salah satu yang saya tertarik itu Arung jeram, lumayan untuk memacu adrenalin yang sudah tampak letoy akhir-akhir ini. Dimulai dengan dentuman bunyi alarm pada jam 7 pagi, salah satu handphone di antara kami berbunyi dan ternyata sumber suara berasal dari handphone saya, saya pun langsung terbangun lalu mematikan alarm dan kemudian seperti biasa saya menerawang dunia dengan media sosial yang saya miliki, hanya sekedar untuk mengecek notif gak sampai selfie lalu post di facebook kemudian di kasih keterangan  "baru bangun tidur #naturalface" dan kemudian muntah.

Setelah puas memanjakan mata dengan postingan-postingan bekas semalam di media sosial saya lanjut melakukan ritual pagi di toilet, you know lah. Teman-teman pun satu persatu bangun dan sambil menyambung nyawa mereka masing-masing, rasa lelah memang masih terasa gara-gara liburan kesasar tadi malam seolah-seolah tubuh ini terguncang seperti petikan lagunya Ebiet G. Ade (baca: Mengarungi Jakarta Dengan Ojek Online), pelan tapi pasti teman-teman pun bangkit dan move on dari 2 benda suci tak bertuan, bantal dan guling. Ada yang merebus air untuk membuat teh hangat dan kopi (Candra dan Erna), ada yang masih searching mencari destinasi bogor selain taman wisata Matahari (Sofian), ada juga yang masih terpaku pada layar handphone sambil memainkan game bergenre strategi (Edy) dan ada juga yang masih duduk ngeden di toilet memenuhi panggilan alam (saya sendiri), kemudian saya pun melanjutkan mandi di toilet untuk merefreshkan jasmani yang hina ini. Sehabis mandi saya tidak lupa untuk mengenakan baju dan celana untuk liburan, karena kalau sampai lupa bahaya ntar ditangkap satpol PP dikira jenis Musang langka berkaki dua membawa seekor burung tanpa paruh. Pada liburan kali ini saya mencoba untuk mengenakan pakaian berwarna merah dan kemudian teman-teman juga ingin mengikuti menggunakan baju warna merah biar kece, keren dan kompak. Namun sayang ada 1 teman yang gak punya baju warna merah, akhirnya musyawarah tingkat apartemen kontrakan pun dilaksanakan dan mengeluarkan keputusan bersama berupa; Surat Keputusan mengenai penggunaan seragam untuk liburan ke Kota Bogor adalah berwarna hitam, keputusan yang dibuat telah disepakati oleh semua pihak yang bersangkutan, dan tidak bisa diganggu gugat. Pemotongan pita keputusan pun dilakukan dan diakhiri dengan menyantap sosis babi yang telah saya bawa dari Pontianak dan sudah di goreng oleh Chef Erna dan Sofian.

Chef Sofian dan Erna.

Setelah semuanya selesai beres-beres, kami pun melaksanakan sarapan pagi dengan lauk seadanya, dan sosis babi yang saya sebutkan tadi itu bukan candaan, sosis itu menjadi pengisi pertama di lambung kami yang kosong kala pagi itu. saya memang membawa sosis babi titipan mama Candrawati dari Pontianak. Meskipun emang terlihat aneh namun nikmat sosis babi di pagi itu seperti makan sepotong burger McD dengan daging babi didalamnya, duhai gusti nikmat Tuhan mana yang kau dustakan! ketika makan, kami semua makan dengan tenang tanpa ada pergulatan dalam memperebutkan jatah sosis babi, Edy adalah teman saya yang cukup tangguh dalam menghabiskan semua lauk-pauk dengan sekejap. Dilihat dari fisik tubuh, kita sudah tahu bahwa Edy ini doyan makan maka beliaulah yang bertugas untuk menyelesaikan dan menghabisi semua makanan dikala Candra, Erna, Sofian dan saya telah kenyang, syukurlah.

Setelah makan, kami pun berkemas membawa pakaian ganti, handuk, kelelawar (kolor), dan kebutuhan yang akan kami gunakan saat di taman wisata Matahari, disini orang yang satu-satunya membawa tas backpacking adalah saya sendiri, so saya yang mesti membawa semua bawaan mereka, untung hanya pakaian saja kalau kulkas juga ikut dibawa bisa jadi saya bakal jualan minuman dingin di stasiun kereta, sambil teriak "yang haus yang haus yang haus!", dan setelah jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi perjalanan kami pun dimulai, dengan pakaian yang sama hitam ketika berjalan sama-sama kami serasa seperti Ksatria Baja Hitam yang akan pergi membasmi penjahat.

Kesatria Baja Hitam Selfie dulu.
Awalnya saya sempat diberitahu oleh Candra, "wil stasiun dekat gak jauh-jauh amat deket kok", dan bodohnya saya, langsung percaya tanpa membuktikan. Dengan menempuh jarak 500 meter menuju stasiun dengan berjalan kaki di pagi hari itu serasa seperti mencari kitab suci ke barat bersama siluman kera.

Ini nih siluman kera jadi-jadian.
Berjalan, melangkah dan menapak dengan pasti kami pun akhirnya sampai di sebuah stasiun kereta yang sudah cukup elit dibanding stasiun kereta dulunya, seperti biasa kita membeli tiket terlebih dahulu.

Kesatria Baja Hitam pada ngantri tiket di loket
Saya menyempatkan selfie didepan loket pembelian tiket dengan teman-teman yang sedang sibuk mengurusi tiket, setelah membeli tiket saya kembali bertanya-tanya dengan Candra mengenai stasiun dan kereta, pertanyaan yang saya ajukan adalah "berapa jumlah roda pada 1 buah kereta", sekejap saya diikat di rel oleh Candra untuk dilindas kereta api bermuatan 100 ekor sapi. Tiket kereta sekarang menggunakan sistem elektronik dengan menggunakan kartu tidak lagi menggunakan kertas tiket. sepertinya sistem ini sudah lama diterapkan hanya saya yang baru tahu dan kalau orang Pontianak mengatakan untuk orang yang baru mengetahui satu hal yang sudah basi akan disebut sepok! ya kala itu saya dikatakan sepok, banget!

Sakin sepoknya saya fotoin biar yang lain ikutan sepok!

Setelah menunggu beberapa menit di stasiun (Sambil selfie), kereta yang akan kami tumpangi pun menampakan batang hidungnya yang benar-benar rata. Ketika saya melihat kereta itu dari kejauhan saya sudah membayangkan hal-hal negatif terhadap transportasi yang mirip seperti ular kadut ini. Yang saya pikirkan waktu itu adalah kereta itu bakal rame, kotor, ada orang bawa ayam, ada yang main petak umpet, ada yang lagi sabung ayam dan lain sebagainya, melihat kondisi wajah saya yang sedikit canggung Candra pun memberitahukan satu hal kepada saya, "tenang aja will, inikan lagi lebaran orang-orang pada mudik, kereta bisa jadi sepi." kali ini demi menenangkan diri saya, saya pun mencoba percaya untuk kedua kalinya. kereta pun sampai di stasiun, penumpang yang akan keluar lebih didahulukan daripada penumpang yang akan masuk, saat masih ada beberapa penumpang yang keluar teman-teman sudah mengejar pintu masuk untuk mencari tempat duduk, namun sayangnya perkataan Candra salah untuk kedua kalinya dan saya juga dikibulin untuk kedua kalinya, kita rame-rame dengan penumpang lain berdiri gak karuan sambil memegang pegangan plastik yang bergantung di langit-langit kereta, tangan saya sudah terkontaminasi oleh bakteri dipegangan itu. 
Pegangan ini disebut Handle.

Candra pun mulai berkata kepada saya lagi "yang ini emang agak rame karena kereta ini sebelumnya singgah dibeberapa stasiun sebelum menuju ke sini, ntar kita transit dan pindah kereta lain jadi ada kemungkinan bisa dapat tempat duduk." ujar Candra saat itu untuk mempertanggungjawabkan perkataan dia sebelumnya, saya pun mengiyakan beliau dengan senyum asem manis. Tak lama berada di dalam kereta kami pun turun dan pindah kereta yang sebenarnya menuju Kota Bogor, saat kereta yang akan kami tumpangi sampai, semua penumpang langsung saja menyerbu kereta itu dan saling berdesakan untuk masuk layaknya seperti warga yang sedang dievakuasi karena adanya kebocoran nuklir, kami pun segera masuk dan berdesakan seperti di medan perang saya harus mencari celah untuk masuk dan mendahului lawan satu persatu, senjata pamungkas yang saya gunakan ditengah perang itu adalah tas backpacking yang sedang saya kenakan. Karena besar, tas saya mampu menghalau beberapa orang yang akan masuk dan mempermudah saya mendapatkan jalan menuju ke dalam, saya melihat Edy yang berada di depan mata, layaknya petarung Sumo dia membentangkan kedua tangannya dan memasang posisi kuda-kuda dengan kaki terbuka lebar, amazing! dengan mudahnya dia menyapu setiap penumpang supaya melewati jalan disamping dan Edy pun sampai di garis finish terlebih dahulu disusul Candra sebagai runner up dan kemudian saya di posisi ketiga, ntah mengapa ini menjadi seperti balapan Moto GP, dan akhirnya insiden yang sama terjadi, saya dan teman yang lain berdiri lagi gak karuan sambil memegang Handle plastik penuh bakteri, meskipun perkataan Candra salah untuk ketiga kalinya dan hasilnya kami harus berdiri bersama-sama lagi di dalam kereta tidak lagi menjadi sebuah masalah, saya cukup senang sudah bisa menikmati kesengsaraan ini bersama-sama, dengan mengangkat ponsel dan menyalakan kamera depan kami pun selfie bersama. Cheese!!

Say cheese! didalam kereta yang berdesakan penuh derita.
Singkat cerita, kereta pun sampai di stasiun bogor, dengan posisi yang masih berdesakan serta sudah terlihat dari jendela ada beberapa, eh bukan beberapa lagi ini sudah dikategorikan banyak! penumpang-penumpang tersebut telah menunggu diluar untuk masuk ke dalam kereta kami, pasti kejadian medan perang diawal tadi bakal terjadi sekali lagi, saya pun memberitahu Edy yang saat itu sudah siap dengan kuda-kuda Sumonya, lalu saya berbicara sebentar dengan Edy. "dy ntar kalau pintu udah kebuka, kau tendang itu penumpang lalu kau teriak, This is Sparta!!!", Edy pun mengiyakan dengan anggukan kepalanya yang pelan tapi pasti. ketika pintu terbuka kami secara ekspetasi kami ingin teriak This is Sparta!! tapi apa daya, jumlah mereka lebih banyak dibanding kami, bagai tikus curut yang keluar dari sarang itulah kami. setelah keluar dari kereta neraka kami pun mencari toilet umum untuk melepaskan dahaga kandung kemih sekaligus untuk mencuci tangan karena kami sadar tangan kami sudah dihinggap lebih dari 1 juta bakteri, after that kami langsung mencari pintu keluar stasiun, setelah keluar dari stasiun kami mulai menggunakan rencana awal kami yaitu memesan Grab Car untuk menuju taman wisata Matahari, sembari menunggu loading di aplikasi Grab, kami juga sambil mencoba icip-icip jajanan di Bogor.

Ekspresi saya yang telah dikibulin Candrawati.
Sasaran pertama yang saya coba waktu itu adalah Cimol. Sebenarnya Cimol itu makanan khas Bandung, makanan yang seperti bakso namun hanya berasa tepung kanji dengan kuah saus khas cimol lumayan untuk mengisi lambung siang itu. berita buruk datang dari Sofian, "kayaknya driver Grab gak ada yang nerima orderan ini, soalnya musim liburan gini kesana pasti macet." ujar Sofian. "coba aja deh order lagi siapa tahu ntar ada yang nerima" jawab si Candra, sambil menunggu adanyan penerimaan dari Driver kami menuju sebuah gerobak ketoprak disamping stasiun untuk makan siang sejenak, Ketoprak juga bukan makanan khas Bogor, Ketoprak aslinya berasal dari Jakarta. Dan saat itu saya kembali mencoba makanan yang mirip kayak Gado-gado itu, rasanya lumayan untuk ukuran sepiring Rp. 10000.
Cimol Cimol!

Ketoprak koplak!
Dan sepertinya kami mengurungkan niat untuk menggunakan Grab Car satu-satunya pilihan saat itu adalah menggunakan angkot menuju tempat tujuan, alih-alih Sofian yang kali ini bertugas sebagai navigator tanpa kompas tapi menggunakan smartphone dengan Google maps dan Google browser, keahlian dalam mencari informasi pun ditunjukkan, memang bocah satu ini cukup cerdas dan berbakat, sekejap saja dia mampu menemukan akses menuju taman wisata Matahari, "yang pertama kita harus menaiki angkot hijau dari terminal Sukasari kemudian naik angkot biru menuju Cisarua" jelas Sofian. "tuh ada angkot yuk langsung naik" jawab saya yang saat itu sudah gak sabaran. Angkot pertama yang kami naiki dengan kondisi yang agak penuh dan memaksa saya untuk jongkok seperti ini:
Jongkok merupakan kegiatan yang cukup membuat saya menderita!

Perjalanan ini begitu sangat menyedihkan..

Kami lalu turun dan kembali melanjutkan perjalanan dengan angkot tujuan Cisarua berwarna biru, kejar mengejar angkot seperti lari dari kejaran anjing bulldog, tanpa harus berlari jauh kami pun langsung naik angkot menuju Cisarua, dan macet pun menghadang, tapi jujur saya begitu salut dengan skill mengemudi pak supir yang cukup beringas dan sebenarnya cukup berbahaya terhadap pengendara lain, demi mengejar waktu beliau menerobos jalan perlahan-lahan dan melewati jalan tepi yang sudah keluar aspal, perumpamaan nyata dibuktikan oleh supir angkot bahwa "Waktu Adalah Uang". tanpa basa basi macet pun dibantai beliau meskipun sedikit mengguncang kami yang berada didalam waktu itu, salip sana salip sini dan kemudian pemberitahuan pak supir menenangkan kami "dek itu udah di Taman wisata matahari" beritahu si supir, "bener mas udah sampai?" tanya salah satu diantara kami, "Iya itu udah sampai" tekan si supir. dan akhirnya dengan berlutut lalu berteriak kami sampai di Taman Wisata Matahari. Kita sampai!!

Taman Wisata Matahari dari sudut kamera Xiaomi Mi 4.
 "Langsung saja!", menjadi sebuah kalimat kami begitu sampai disana, menuju loket untuk pembelian tiket, seperti paragraf pertama yang sudah saya berikan tanda kurung kenapa kami memilih tempat wisata ini karena M-U-R-A-H, Murah! tiket perorang dihargai Rp. 25000, selain itu kami juga digratiskan untuk menikmati 4 wahana bermain dan diskon 10% jika makan di resto Sunda Express.

Beda dengan wisata di Kalbar yang perorang Rp. 50000, gak ada gratisnya lagi!
Tapi permainan gratis itu saya tepis, karena saya ingin mencoba arung jeram terlebih dahulu, setelah masuk ke dalam saya pun mencoba mengajak teman-teman langsung menuju loket permainan Arung jeram. Rame menjadi kata yang mendeskripsikan kondisi saat itu, saya melihat kolam renang yang benar-benar dipenuhi oleh anak-anak, sambil menggelengkan kepala dan dalam hati berkata "kasian mereka masih kecil sudah harus mandi kolam air yang bercampur dengan zat urine" sungguh orang tua yang ironis demi kebahagiaan anaknya kesehatan jadi taruhan. tanpa menghiraukan mereka mata saya tetap menoleh ke kiri dan ke kanan mencari loket Arung Jeram, "nah ketemu!" seru saya. langsung saja saya menghampiri mbak-mbak penjaga loket, karena rame kami masuk dalam waiting list setengah jam lagi, singkat cerita kami sudah berpakaian lengkap safety seperti helm dan safety jacket. Pemandu kami saat itu orangnya cukup asik dan ramah, kami diinstruksikan seperti maju, berarti harus mendayung maju, mundur, berarti harus mendayung mundur, dan Stop berarti tidak boleh mendayung sama sekali. Begitu perahu karet kami mulai didorong menuju tengah aliran sungai kami mulai mendayung, tabrakan batu yang mengguncang kami justru membuat kami semakin seru! tapi nyangkutnya perahu ke celah-celah batu justru lebih sering kami rasakan mungkin karena posisi Edy yang saat itu seorang diri berada di tengah, lihat fotonya:

ini pas nyangkut!



Menariknya itu tanpa disadari ada sejumlah fotografer yang bertugas fotoin kita-kita tapi begitu mau di copy perfoto dihargai Rp.10000 dan kalau dicetak harganya Rp. 25000/foto. Selain Arung jeram kita juga main flying fox. harga tiket Flying Fox Rp. 25000/orang, lintasannya juga jauh dan tinggi! Sofian yang takut ketinggian tersebut kami paksa untuk ikut main juga! beliau sempat kejang-kejang sebelum terjun, ironis!.




Willy

Candrawati

Sofian

Erna

Edy
Setelah bermain Flying Fox, kami mencoba bermain perahu karet, disaat itu saya duduk di ujung perahu sembari mendokumentasikan mereka berempat mendayung perahu karet tersebut. Singgah di tempat yang berjualan makanan cemilan, tak luput kami lupakan! mencoba mengelilingi taman wisata dengan bus yang disediakan tapi harus membayar Rp. 10000/orang tak jadi masalah!, dan juga sekaligus foto-foto menjadi akhir dari permainan kami di taman wisata Matahari.

dayung mendayung di perahu karet, dan kemudian tenggelam.




Maaak kamek beli oleh-oleh.
Setelah puas bermain-main di Taman Wisata Matahari, jam juga sudah menunjukkan 17.30 wib dan tutupnya taman wisata ini adalah jam 17.00 wib kami sudah molor setengah jam, lalu kami segera menuju jalan keluar dari tempat ini, langkah jejak pun tertinggal disana menjadi sebuah kenangan seru yang pernah terukir disana bersama teman-teman. dan sekali lagi kita kembali mengejar angkot di kota hujan, kejar mengejar angkot menjadi penutup kegiatan kami, dan namanya juga kota hujan, hujan pun turun dengan deras seakan menjadi pertanda kesedihan kota Bogor dalam perpisahan kami kali ini, cielah. keseruan pun tak berakhir begitu saja didalam angkot obrolan kami yang begitu dominan diantara penumpang lain membuat salah satu penumpang yang tiba-tiba bergabung dalam percakapan kami, beliau orang Sulawesi saya gak tau namanya siapa karena kami tak sempat berkenalan. Beliau pun juga bercerita tentang tanah kelahiran beliau di Sulawesi mulai dari biji kopi sampai cerita adat istiadat upacara pemakaman disana dan tentang mayat yang bisa berjalan sendiri, serem. kami pun berpisah dengan beliau di stasiun Bogor. melanjutkan perjalanan pulang menuju Jakarta dengan menggunakan kereta neraka lagi, hanya berbekal Roti O didalam kereta yang cukup untuk mengganjal lapar kami didalam kereta dan di kereta kali ini kita bisa mendapatkan tempat duduk, dan duduk hingga sampai di Jakarta. dan juga tidak lupa kami harus berjalan kaki sejauh 500 meter dari stasiun tapi beruntung kami menemukan Bajaj, 5 orang dengan bobot 55kg/orang kecuali Edy bobotnya pasti lebih dri 55kg, kami pun masuk ke dalam bajaj sambil pangku-pangkuan, yang saya takutkan adalah bajajnya tiba-tiba standing karena berat yang lebih menekan di belakang, tidak sampai 10 menit kami sampai di apartemen dan menyempatkan diri untuk singgah di indomaret sembari bercanda dengan pelayan dan kasir indomaret. 

Terpaksa karena uang belanjaan gak cukup.
Membeli beberapa bungkus mie instant untuk makan malam kami, secara tak sengaja saya mengajak mereka untuk melakukan ritual Melepet (apa itu Melepet? baca: 4 Budak Melepet). Akhir yang menjadi akhir perjalanan kami seharian itu, Excited banget! meskipun lelah liburan kali ini sangat seru, berawal dari desak-desakan di kereta, kejar mengejar angkot, bermain di taman wisata sampai lupa umur, hingga bertemu orang Sulawesi dan menikmati rintikan hujan di kota Bogor. kenangan yang tak bisa saya lupakan meskipun capek tapi apa yang didapatkan melebihi dari jumlah bobot capek saya waktu itu. kini artikel perjalanan saya sudah terlampau sangat panjang, semoga tidak membuat anda bosan ketika membaca, dicicil juga boleh. Perjalanan benar-benar sangat menyenangkan jika kita belum tahu apa yang akan terjadi disana, begitu banyak kejutan yang kami terima membuat kami jadi lebih bersemangat! See you for next trip.

Selasa, 12 Juli 2016

Mengarungi Jakarta Dengan Ojek Online


Setelah dari blog sebelumnya tentang saya yang berhasil melewati macet dimalam takbiran di Jakarta, horeeeee! (Tiup terompet sambil menari salsa). Kini saya lanjut lagi menguraikan liburan saya setelah itu, tepatnya tanggal 6 juli 2016 hari pertama lebaran, destinasi yang kami pilih waktu itu adalah ke mallnya jakarta, dengan menggunakan ojek online Grab, saya dibonceng sama mas-mas rider Grab sambil mengitari kota Jakarta.
Nih saya fotoin jaketnya.

Mas-masnya ramah juga, saya sempat diajakin ngobrol dan kami berdua pun ngobrol dengan akrab dengan gaya bicara logat jawanya serta saya dengan logat pontianak yg sedikit ke jakarta-jakartaan saya mencoba untuk mengikuti alur pembicaraan, setelah beberapa saat saya diam untuk menghentikan percakapan karena ada 2 alasan yang berbahaya jika percakapan ini terus berlangsung;

  1. Mas-masnya ntar gak fokus nyetir, salah-salah kita bisa ke hantam oleh kejamnya Metro mini dan liburan ini bisa dihabiskan di Rumah Sakit terdekat,
  2. Saya takut ntar makin asyik ngobrolnya saya jadi nyaman sama mas itu dan kemudian saya melukin mas-mas itu dan kemudian ngobrol, "beb hobi kamu apa?" Muntah seketika.
Central Park menjadi tempat pertama yang saya singgahi, di kawasan outdoor itu terdapat beberapa taman yang sudah didesain dengan cantik, bersih, dan rapi bagaikan cewek yang habis dandan buat pergi kondangan, tamannya berasa fresh dan enak juga untuk nyantai sambil menikmati segelas kopi vietnam campur sianida jadi kebayang kalau seandainya mati keracunan saya udah bahagia bisa kejang-kejang dikerumunin sama cewek-cewek cakep dan difotoin lalu diupload ke media sosial "Pria paruh baya tewas setelah minum kopi vietnam di kawasan Central Park". 


Taman di Central Park
Lagi di Singapore!
pret ketahuan banget bohongnya!
Setelah selesai memanjakan mata melihat taman dan cewek-cewek di sekitar sana kini kami mau menuju ke pintu masuk kawasan mall, begitu sampai ternyata belum buka, sembari menunggu kami foto bareng dengan view membelakangi gedung-gedung besar supaya saya bisa post di instagram, dan saya kasih hastag #Singapore, tapi kayaknya ketahuan banget. Ketika sudah teng jam 12.00 siang kami pun masuk didalam mall, ruangan mall yang masih sepi dan banyak toko-toko yang masih belum buka, didalam mall membuat saya hanya bisa melihat pemandangan mall dengan pintu-pintu besi yang masih tertutup rapat, wajar kan masih hari pertama lebaran. Kemudian gak pas rasanya sudah sampai di mall tapi gak nyobain toiletnya, dan saya pun mencari toilet. Saya sempat bingung, karena plang toilet itu gak bertuliskan toilet tapi restroom, saya kira restroom itu tempat orang-orang untuk istirahat setelah habis joging di kawasan mall, karena penasaran saya pun masuk ternyata restroom yang dimaksud itu adalah Toilet, disini saya merasa agak kampungan. Kemudian setelah selesai melepas dahaga di toilet saya kembali lagi mengitari mall dengan tujuan yang gak karuan, jalan-jalan di mall ini emang berasa gak karuan dan tanpa tujuan dan akhirnya bosan pun menyapa, setelah berdiskusi sama teman-teman akhirnya mereka membawa saya menuju 1 mall bernama Taman Anggrek, yang saya pikirkan waktu itu mallnya punya banyak tanaman anggrek mulai dari anggrek hitam yang langka sampai anggrek kuning dan putih yang sering ditemui dan juga dimana banyak kupu-kupu yang beterbangan kesana kemari, ternyata itu hanya sebuah nama tanpa realita, ekspetasi saya yang over, sepertinya. Di mall Taman Anggrek, saya sempat di ajak untuk nyobain Ice Skating, karena mall-mall di jakarta itu sangat luas sampai-sampai ada papan denah di mall, beda ya dengan mall yg di pontianak yang setiap lantai kita bisa hafal ada apa aja disana, contohnya kalau saya mau ke gramedia di kawasan Megamall pontianak cukup naik eskalator menuju ke lantai 1 udah beres, kalau disana saya mau ke gramedia, mesti naik eskalator, muter-muter belok sana belok sini, kesasar, liatin denah baru sampai, waktu yang terbuang itu padahal bisa digunakan untuk masak mie instant sebungkus. Lanjut lagi mengenai Ice Skating, setelah sampai di sana antrian untuk beli tiket agak panjang, dan ruangan bermain Ice Skating disana rameeeee! itu kandang Ice Skating udh mirip kayak tabung berisi 1 juta ekor nyamuk yang muter-muter karena rame! Akhirnya saya mengurungkan niat kaki saya untuk berseluncur di Ice Skating dan menuju Carefour untuk membeli obat nyamuk semprot untuk nyemprotin nyamuk jadi-jadian diruang Ice Skating, karena tujuan sudah ngeblur jadi saya memutuskan untuk kuliner saja di salah satu foodcourt di mall ini, nah di foodcourt ini juga unik, sistemnya sedikit berbeda dengan beberapa foodcourt yang saya temui di pontianak jadi sebelom memesan ke setiap stand foodcourt kita wajib menukar uang kita menjadi kupon kertas dengan nominal 5ribu, 10ribu, dan 20ribu contoh kalau kita nukar uang 100ribu kita bakal dapat kupon 10ribu 5 lembar dan 5ribu 10 lembar barulah kita bisa belanjain itu kupon ke setiap stand, harga di setiap stand bervariasi tapi rata-rata 20ribu ke atas. 

Udah diobok-obok dikit.

Dengan insting pemburu kuliner, satu per satu stand saya kunjungi dan melihat-lihat isi menu yang disediakan, menu yang menarik perhatian saya adalah Pempek Palembang, makanan ini merupakan termasuk makanan favorit saya, karena sakin sukanya saya pernah meminta mama untuk buatkan pempek, bermodal internet mama pun mencari resep dan berkreasi serta sedikit improvisasi. Pempek buatan mama yang pertama rasanya terlalu kenyal dan susah dikunyah seperti makan kulit badak, pempek hasil buatan kedua rasanya terlalu keras dan tak bertekstur sama sekali seperti makan tembok semen yang setengah kering, dan hasil buatan ketiga baru terasa enak dan lezat sekali mirip kayak buatan abang-abang yang jualan, lalu karena mama senang pempek buatannya berhasil akhirnya selama 2 minggu mama masakin pempek terus sampai saya merasa bosan dan enek untuk makan pempek lagi, itulah The Pempek Story. Namun sekarang saya masih doyan makan pempek tapi jangan keseringan juga, saya memesan sebuah pempek kapal selam, terpaksa memilih yang kapal selam karena yang bentuk kayak Tank dan Jet Tempur gak ada. 


Pao Tausa, bukan Pot Sa!
Ketika pempek sudah selesai disajikan saya bayar dengan uang kupon tersebut lalu lanjut lagi menuju 1 stand yang jualan makanan sejenis dimsum saya tertarik untuk nyobain Pao Tausa sebuah bakpao kecil dengan isian kacang merah didalamnya, kemudian pemburuan kuliner saat itu saya closing dengan membeli sebotol air mineral di salah satu stand beverages. Setelah semua sudah selesai dipesan saya melakukan ritual seperti biasa yaitu difoto terlebih dahulu, setelah dirasa cukup dengan fotonya maka saya pun segera menyantap satu persatu. Dimulai dari pempek, rasanya mantap pisan… bener-bener asli Palembang rasa dari ikan tenggirinya gak hilang, biasanya yang saya makan lebih dominan rasa tepung dibanding ikan tapi ini malah sebaliknya dengan kuah pempek yang pedas membuat saya berasa hidup sekali menikmati setiap kunyahan antara pempek bercampur kuahnya seakan ada kolaborasi orchestra antara Erwin Gutawa dan Addie M.S didalam mulut saya, setelah makan yang pedes emang cocok dinetralin sama Pao Tausa yang manis, Pao Tausa yang lembut dan isian kacang merah yang manis memang mantap untuk menetralkan rasa pedas dari kuah pempek tersebut, kacang merah yang melumer didalam tenggorokan seakan menyapu habis rasa pedas, beh! Makan siang di hari itu berasa mantap sekali. Dan diakhiri dengan setenguk air mineral, kenyang pun didapat.

             
      Sehabis makan-makan selanjutnya menuju ke Ancol, seperti biasa kalau kita masuk tempat wisata, kita diwajibkan untuk beli tiket masuk, waktu beli tiket masuk sebenarnya ada sedikit masalah terhadap petugas tiketnya, karena kami ada 5 orang total tiket yang harus kami bayar adalah 155ribu disaat itu teman saya membayar dengan uang 200ribu dengan pecahan 100ribu dan 50ribu 2 lembar, lalu petugas tiket yang diluar mengambil uang dan menyerahkan ke petugas yang di dalam kemudian petugas yang di dalam mengembalikan uang hanya 5ribu perak! sontak temen saya protes karena uang yang tadi diberikan jelas dan yakin 200ribu saya pun sempat memotong perdebatan itu dan mendukung teman saya (dukungnya begini, Ayo! Ayo! Tinju! Tinju! Tinju!), karena saya tepat dibelakang teman saya dan dengan sangat jelas saya lihat tadi dia membayar uang 200ribu, namun kecurigaan saya terfokus pada petugas diluar yang memegang uang itu pertama kali, kami sempat kaget petugas didalam menunjukkan uang kami yang hanya 160ribu saja, wah ada yang gak beres! setelah itu teman saya mengakhiri perdebatan ini dengan meninggalkan nomor handphone dan jika memang terekam disistem, uang yang lebih akan dikembalikan, awal masuk yang mencengangkan. setelah insiden itu dilewati tapi belum berakhir, kami masuk menuju kawasan Pantai Ancol mencari tempat duduk yang nyaman sambil memesan minuman dan membahas permasalahan tadi, semuanya menaruh curiga terhadap petugas diluar yang kelihatan masih muda dengan rambut klimis dan kulit sawo matang hampir mau basi, setelah pembahasan tersebut berakhir kami pun ngobrol santai membahas hal lain lalu kami pindah tepat menuju pesisir pantai, hanya untuk sekedar berfoto dan menikmati sunset, kemudian handphone teman pun berbunyi, ternyata telepon dari pihak petugas tiket, dan benar saja! uang kami emang lebih karena terdapat kesalahan dari pihak petugas, dalam hati saya berkata "Dasar kecebong kampret!". akhirnya petugas ini menanyakan posisi kami dan segera menyusuri kami untuk memberikan uang tersebut, menunggu dan menunggu petugas tak kunjung datang, pikiran negatif mulai meresapi pikiran kami dengan berpikir seperti ini "Mungkin petugasnya bohong kali dan ngerjain kita!" disaat itu entah kenapa otak saya bisa bekerja serasa semua roda gigi diotak saya saling terhubung satu sama lain dan mulai bekerja, dan saya pun mengucapkan sepatah nasehat kepada teman-teman "ayolah kita coba berpikir positif saja, kalau mikir negatif nanti hasilnya negatif." dan akhirnya kata-kata bijak saya berakhir hanya dengan 12 kata, terima kasih otak! kemudian teman-teman pun mulai sibuk nelponin petugas itu yang posisinya gak tahu ada dimana sampai akhirnya kami ngajak ketemuan di Indomaret dalam kawasan Ancol, si petugas nelpon balik.

'Mas saya udah di indomaret' ucap si petugas.
'lah mas kami udah di indomaret dari tadi, masnya dimana?' teman saya menjawab.
'Dimananya mas?' kembali dia bertanya
'Disamping A&W mas!'
'Waduh kok gak ada mas, saya pake baju merah ada sedikit corak' 
     
     Mata kami pun mulai menatap tajam orang-orang yang berbaju merah, seakan seperti pemburu yang tengah menargetkan mangsanya, dan saat itu ntah mengapa kami jadi curiga dengan semua orang yang berbaju merah pada saat itu, merasa sensi terhadap orang yang berbaju merah dan juga entah mengapa dihari itu banyak sekali manusia yang menggunakan baju merah, akhirnya setelah gak ketemu kami pun menelepon petugas tersebut dan memutuskan untuk bertemu di pintu masuk Ancol, dan salah satu teman kami bertanya kepada karyawan Indomaret..

'Mas Indomaret di Ancol ada berapa?' tanya teman saya kepada salah satu karyawan.
'Indomaret disini ada 3 mas, satu disana, dan satu lagi ada di daerah sana lagi' jawab si karyawan.

     Kami pun mulai menyadari kenapa kami gak bisa ketemu mas-mas baju merah dengan corak ditengah, kami pun bergegas on the way menuju pintu masuk, dan akhirnya ketemu sama mas-mas baju merah dengan corak ditengah, petugas tersebut mengembalikan uang kami dan urusan beres! saat itu lapar melanda dan saya request sama teman-teman untuk makan di Mc Donald, kenapa saya pilih tempat ini jawabannya simple, di Pontianak belom ada! kami pun kembali bergegas menuju Mc Donald di kawasan Cideng, pada saat perjalanan menuju kesana kami sempat dilanda bencana kesasar karena satu di antara teman kami yang ditugaskan untuk menjadi navigator dengan google map akhirnya pusing karena gak paham akhirnya kami kesasar sedikit menuju Kota Tua, dan memutuskan untuk singgah sebentar, karena Kota Tua juga merupakan kawasan wisata Jakarta yang wajib dikunjungi, di Kota Tua lagi ada cosplay hantu-hantuan dari yang lokal seperti Kuntilanak, Pocong, dan Sundel Bolong sampai yang dari mancanegara seperti yang populer saat ini yaitu Valak. hanya dengan memberikan uang sebesar 2ribu kita udah bisa foto bareng mereka sambil bergaya gak karuan seperti ini;

Sensasi dicekik Valak.
Kota Tua, yang di foto juga udah nampak tua.
     Setelah selesai di Kota Tua kami melanjutkan kembali menuju Mc Donald, perut yang mulai terasa lapar membuat saya menjadi diam tanpa kata bahkan sepatah kata pun, saya berharap bisa segera sampai disana untuk mencicipi kentang goreng, ayam goreng, dan es krim choco top yang terkenal enak disana, setelah mengikuti maps kembali, lewat pertikungan, muter jalan, masuk jalan sempit akhirnya tulisan berwarna kuning dengan membentuk huruf M sudah kelihatan, bahagiamya mulai terasa. motor pun diparkir, segeralah kami masuk menuju kasir memesan ayam goreng dan kentang goreng terlebih dahulu, sembari menunggu saya memperhatikan kinerja dari karyawan Mc Donald, disana mereka bekerja dengan semangat, keramahan dari karyawan mulai dari kasir sampai supervisor yang gak kalah murah senyum juga emang pantas diacungkan jempol. tak terasa ayam goreng dan kentang goreng yang kami pesan akhirnya datang, ketika saya mencoba ayam gorengnya beh! enaaaak! bumbunya berasa beda dengan ayam goreng tepung yang pernah saya coba oleh buatan kakek tua berkumis putih. ayamnya bener-bener enak lalu kentang gorengnya juga berasa banget disetiap stik kentang goreng ada rasa asin, mantap deh! disamping itu harganya lebih terjangkau dibanding yang lain, karena kita sudah membandingkan harganya. setelah selesai santap menu utama tiba saatnya menikmati menu penutup, saya langsung memesan Ice Cream Choco Top.

Bagai emas diujung Monas!
     Tuh eskrimnya, orang pontianak yang belom nyobain dapet salam tuh dari Ice Creamnya Mc Donald. setelah selesai menikmati malam hari di Mc Donald kami pun pulang menuju apartemen di daerah Latumenten, selama diperjalanan pulang saya mencoba review kembali perjalanan saya hari ini, dimulai dari menikmati pemandangan mall Central Park, menuju mall Taman Anggrek dan melihat kandang Ice Skating kayak jutaan nyamuk jadi-jadian muter-muter, berdebat dengan petugas karcis, kesasar menuju Kota Tua yang tak diduga dan berakhir dengan menikmati sebuah Ice Cream di Mc Donald, satu kata untuk hari itu. Excited! Perjalanan memang lebih terasa menarik jika kita gak tahu tempat tujuaanya karena banyak hal yang diluar dugaan terus-menerus muncul seperti kejutan di musim panas, tulisan inipun akan berada dipenghujungnya nantikan lagi tulisan saya tentang perjalanan kami ke Bogor! saya mau berterima kasih sama teman-teman saya yang saat ini berada di Jakarta (Edy, Candrawati, Sofian dan Erna) yang udah rela-relain ngajakin saya jalan-jalan, pesanin saya Ojek Grab sampai Traktirin saya, Arigatou! Thank you! Kamsia! cuma itu yang bisa saya ucapkan, next time saya ke jakarta tetap berkunjung ke apartemen kalian yang minimalis namun seru dan nyaman banget, meskipun kelelawar kita bergantungan bersama disana, see you next time!.






Sofian, Erna, Saya, Candrawati, dan Edy