Kota Bogor menjadi destinasi kedua pada liburan saya kali kemaren bukan kali ini, di Bogor saya gak tahu ada apa disana ya palingan yang sering saya dengar itu disana ada beberapa tempat penginapan di puncak yang mungkin biasa saja hanya sedikit dingin, pada malam sebelumnya kami sudah searched beberapa taman wisata di Bogor dan hati kami jatuh kepada salah satu taman wisata bernama Matahari (karena murah).
 |
| Wahana Taman Wisata Matahari |
Disana terdapat banyak wahana hiburan salah satu yang saya tertarik itu Arung jeram, lumayan untuk memacu adrenalin yang sudah tampak letoy akhir-akhir ini. Dimulai dengan dentuman bunyi alarm pada jam 7 pagi, salah satu handphone di antara kami berbunyi dan ternyata sumber suara berasal dari handphone saya, saya pun langsung terbangun lalu mematikan alarm dan kemudian seperti biasa saya menerawang dunia dengan media sosial yang saya miliki, hanya sekedar untuk mengecek notif gak sampai selfie lalu post di facebook kemudian di kasih keterangan "baru bangun tidur #naturalface" dan kemudian muntah.
Setelah puas memanjakan mata dengan postingan-postingan bekas semalam di media sosial saya lanjut melakukan ritual pagi di toilet, you know lah. Teman-teman pun satu persatu bangun dan sambil menyambung nyawa mereka masing-masing, rasa lelah memang masih terasa gara-gara liburan kesasar tadi malam seolah-seolah tubuh ini terguncang seperti petikan lagunya Ebiet G. Ade (baca:
Mengarungi Jakarta Dengan Ojek Online), pelan tapi pasti teman-teman pun bangkit dan
move on dari 2 benda suci tak bertuan,
bantal dan guling. Ada yang merebus air untuk membuat teh hangat dan kopi (Candra dan Erna), ada yang masih searching mencari destinasi bogor selain taman wisata Matahari (Sofian), ada juga yang masih terpaku pada layar handphone sambil memainkan game bergenre strategi (Edy) dan ada juga yang masih duduk ngeden di toilet memenuhi panggilan alam (saya sendiri), kemudian saya pun melanjutkan mandi di toilet untuk merefreshkan jasmani yang hina ini. Sehabis mandi saya tidak lupa untuk mengenakan baju dan celana untuk liburan, karena kalau sampai lupa bahaya ntar ditangkap satpol PP dikira jenis Musang langka berkaki dua membawa seekor burung tanpa paruh. Pada liburan kali ini saya mencoba untuk mengenakan pakaian berwarna merah dan kemudian teman-teman juga ingin mengikuti menggunakan baju warna merah biar kece, keren dan kompak. Namun sayang ada 1 teman yang gak punya baju warna merah, akhirnya musyawarah tingkat apartemen kontrakan pun dilaksanakan dan mengeluarkan keputusan bersama berupa; Surat Keputusan mengenai penggunaan seragam untuk liburan ke Kota Bogor adalah berwarna hitam, keputusan yang dibuat telah disepakati oleh semua pihak yang bersangkutan, dan tidak bisa diganggu gugat. Pemotongan pita keputusan pun dilakukan dan diakhiri dengan menyantap sosis babi yang telah saya bawa dari Pontianak dan sudah di goreng oleh Chef Erna dan Sofian.
 |
| Chef Sofian dan Erna. |
Setelah semuanya selesai beres-beres, kami pun melaksanakan sarapan pagi dengan lauk seadanya, dan sosis babi yang saya sebutkan tadi itu bukan candaan, sosis itu menjadi pengisi pertama di lambung kami yang kosong kala pagi itu. saya memang membawa sosis babi titipan mama Candrawati dari Pontianak. Meskipun emang terlihat aneh namun nikmat sosis babi di pagi itu seperti makan sepotong burger McD dengan daging babi didalamnya, duhai gusti nikmat Tuhan mana yang kau dustakan! ketika makan, kami semua makan dengan tenang tanpa ada pergulatan dalam memperebutkan jatah sosis babi, Edy adalah teman saya yang cukup tangguh dalam menghabiskan semua lauk-pauk dengan sekejap. Dilihat dari fisik tubuh, kita sudah tahu bahwa Edy ini doyan makan maka beliaulah yang bertugas untuk menyelesaikan dan menghabisi semua makanan dikala Candra, Erna, Sofian dan saya telah kenyang, syukurlah.
Setelah makan, kami pun berkemas membawa pakaian ganti, handuk, kelelawar (kolor), dan kebutuhan yang akan kami gunakan saat di taman wisata Matahari, disini orang yang satu-satunya membawa tas backpacking adalah saya sendiri, so saya yang mesti membawa semua bawaan mereka, untung hanya pakaian saja kalau kulkas juga ikut dibawa bisa jadi saya bakal jualan minuman dingin di stasiun kereta, sambil teriak "yang haus yang haus yang haus!", dan setelah jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi perjalanan kami pun dimulai, dengan pakaian yang sama hitam ketika berjalan sama-sama kami serasa seperti Ksatria Baja Hitam yang akan pergi membasmi penjahat.
 |
| Kesatria Baja Hitam Selfie dulu. |
Awalnya saya sempat diberitahu oleh Candra, "wil stasiun dekat gak jauh-jauh amat deket kok", dan bodohnya saya, langsung percaya tanpa membuktikan. Dengan menempuh jarak 500 meter menuju stasiun dengan berjalan kaki di pagi hari itu serasa seperti mencari kitab suci ke barat bersama siluman kera.
 |
| Ini nih siluman kera jadi-jadian. |
Berjalan, melangkah dan menapak dengan pasti kami pun akhirnya sampai di sebuah stasiun kereta yang sudah cukup elit dibanding stasiun kereta dulunya, seperti biasa kita membeli tiket terlebih dahulu.
 |
| Kesatria Baja Hitam pada ngantri tiket di loket |
Saya menyempatkan selfie didepan loket pembelian tiket dengan teman-teman yang sedang sibuk mengurusi tiket, setelah membeli tiket saya kembali bertanya-tanya dengan Candra mengenai stasiun dan kereta, pertanyaan yang saya ajukan adalah "berapa jumlah roda pada 1 buah kereta", sekejap saya diikat di rel oleh Candra untuk dilindas kereta api bermuatan 100 ekor sapi. Tiket kereta sekarang menggunakan sistem elektronik dengan menggunakan kartu tidak lagi menggunakan kertas tiket. sepertinya sistem ini sudah lama diterapkan hanya saya yang baru tahu dan kalau orang Pontianak mengatakan untuk orang yang baru mengetahui satu hal yang sudah basi akan disebut sepok! ya kala itu saya dikatakan sepok, banget!
 |
| Sakin sepoknya saya fotoin biar yang lain ikutan sepok! |
Setelah menunggu beberapa menit di stasiun (Sambil selfie), kereta yang akan kami tumpangi pun menampakan batang hidungnya yang benar-benar rata. Ketika saya melihat kereta itu dari kejauhan saya sudah membayangkan hal-hal negatif terhadap transportasi yang mirip seperti ular kadut ini. Yang saya pikirkan waktu itu adalah kereta itu bakal rame, kotor, ada orang bawa ayam, ada yang main petak umpet, ada yang lagi sabung ayam dan lain sebagainya, melihat kondisi wajah saya yang sedikit canggung Candra pun memberitahukan satu hal kepada saya, "tenang aja will, inikan lagi lebaran orang-orang pada mudik, kereta bisa jadi sepi." kali ini demi menenangkan diri saya, saya pun mencoba percaya untuk kedua kalinya. kereta pun sampai di stasiun, penumpang yang akan keluar lebih didahulukan daripada penumpang yang akan masuk, saat masih ada beberapa penumpang yang keluar teman-teman sudah mengejar pintu masuk untuk mencari tempat duduk, namun sayangnya perkataan Candra salah untuk kedua kalinya dan saya juga dikibulin untuk kedua kalinya, kita rame-rame dengan penumpang lain berdiri gak karuan sambil memegang pegangan plastik yang bergantung di langit-langit kereta, tangan saya sudah terkontaminasi oleh bakteri dipegangan itu.
 |
| Pegangan ini disebut Handle. |
Candra pun mulai berkata kepada saya lagi "yang ini emang agak rame karena kereta ini sebelumnya singgah dibeberapa stasiun sebelum menuju ke sini, ntar kita transit dan pindah kereta lain jadi ada kemungkinan bisa dapat tempat duduk." ujar Candra saat itu untuk mempertanggungjawabkan perkataan dia sebelumnya, saya pun mengiyakan beliau dengan senyum asem manis. Tak lama berada di dalam kereta kami pun turun dan pindah kereta yang sebenarnya menuju Kota Bogor, saat kereta yang akan kami tumpangi sampai, semua penumpang langsung saja menyerbu kereta itu dan saling berdesakan untuk masuk layaknya seperti warga yang sedang dievakuasi karena adanya kebocoran nuklir, kami pun segera masuk dan berdesakan seperti di medan perang saya harus mencari celah untuk masuk dan mendahului lawan satu persatu, senjata pamungkas yang saya gunakan ditengah perang itu adalah tas backpacking yang sedang saya kenakan. Karena besar, tas saya mampu menghalau beberapa orang yang akan masuk dan mempermudah saya mendapatkan jalan menuju ke dalam, saya melihat Edy yang berada di depan mata, layaknya petarung Sumo dia membentangkan kedua tangannya dan memasang posisi kuda-kuda dengan kaki terbuka lebar, amazing! dengan mudahnya dia menyapu setiap penumpang supaya melewati jalan disamping dan Edy pun sampai di garis finish terlebih dahulu disusul Candra sebagai runner up dan kemudian saya di posisi ketiga, ntah mengapa ini menjadi seperti balapan Moto GP, dan akhirnya insiden yang sama terjadi, saya dan teman yang lain berdiri lagi gak karuan sambil memegang Handle plastik penuh bakteri, meskipun perkataan Candra salah untuk ketiga kalinya dan hasilnya kami harus berdiri bersama-sama lagi di dalam kereta tidak lagi menjadi sebuah masalah, saya cukup senang sudah bisa menikmati kesengsaraan ini bersama-sama, dengan mengangkat ponsel dan menyalakan kamera depan kami pun selfie bersama. Cheese!!
 |
| Say cheese! didalam kereta yang berdesakan penuh derita. |
Singkat cerita, kereta pun sampai di stasiun bogor, dengan posisi yang masih berdesakan serta sudah terlihat dari jendela ada beberapa, eh bukan beberapa lagi ini sudah dikategorikan banyak! penumpang-penumpang tersebut telah menunggu diluar untuk masuk ke dalam kereta kami, pasti kejadian medan perang diawal tadi bakal terjadi sekali lagi, saya pun memberitahu Edy yang saat itu sudah siap dengan kuda-kuda Sumonya, lalu saya berbicara sebentar dengan Edy. "dy ntar kalau pintu udah kebuka, kau tendang itu penumpang lalu kau teriak, This is Sparta!!!", Edy pun mengiyakan dengan anggukan kepalanya yang pelan tapi pasti. ketika pintu terbuka kami secara ekspetasi kami ingin teriak This is Sparta!! tapi apa daya, jumlah mereka lebih banyak dibanding kami, bagai tikus curut yang keluar dari sarang itulah kami. setelah keluar dari kereta neraka kami pun mencari toilet umum untuk melepaskan dahaga kandung kemih sekaligus untuk mencuci tangan karena kami sadar tangan kami sudah dihinggap lebih dari 1 juta bakteri, after that kami langsung mencari pintu keluar stasiun, setelah keluar dari stasiun kami mulai menggunakan rencana awal kami yaitu memesan Grab Car untuk menuju taman wisata Matahari, sembari menunggu loading di aplikasi Grab, kami juga sambil mencoba icip-icip jajanan di Bogor.
 |
| Ekspresi saya yang telah dikibulin Candrawati. |
Sasaran pertama yang saya coba waktu itu adalah Cimol. Sebenarnya Cimol itu makanan khas Bandung, makanan yang seperti bakso namun hanya berasa tepung kanji dengan kuah saus khas cimol lumayan untuk mengisi lambung siang itu. berita buruk datang dari Sofian, "kayaknya driver Grab gak ada yang nerima orderan ini, soalnya musim liburan gini kesana pasti macet." ujar Sofian. "coba aja deh order lagi siapa tahu ntar ada yang nerima" jawab si Candra, sambil menunggu adanyan penerimaan dari Driver kami menuju sebuah gerobak ketoprak disamping stasiun untuk makan siang sejenak, Ketoprak juga bukan makanan khas Bogor, Ketoprak aslinya berasal dari Jakarta. Dan saat itu saya kembali mencoba makanan yang mirip kayak Gado-gado itu, rasanya lumayan untuk ukuran sepiring Rp. 10000.
 |
| Cimol Cimol! |
 |
| Ketoprak koplak! |
Dan sepertinya kami mengurungkan niat untuk menggunakan Grab Car satu-satunya pilihan saat itu adalah menggunakan angkot menuju tempat tujuan, alih-alih Sofian yang kali ini bertugas sebagai navigator tanpa kompas tapi menggunakan smartphone dengan Google maps dan Google browser, keahlian dalam mencari informasi pun ditunjukkan, memang bocah satu ini cukup cerdas dan berbakat, sekejap saja dia mampu menemukan akses menuju taman wisata Matahari, "yang pertama kita harus menaiki angkot hijau dari terminal Sukasari kemudian naik angkot biru menuju Cisarua" jelas Sofian. "tuh ada angkot yuk langsung naik" jawab saya yang saat itu sudah gak sabaran. Angkot pertama yang kami naiki dengan kondisi yang agak penuh dan memaksa saya untuk jongkok seperti ini:
 |
| Jongkok merupakan kegiatan yang cukup membuat saya menderita! |
 |
| Perjalanan ini begitu sangat menyedihkan.. |
Kami lalu turun dan kembali melanjutkan perjalanan dengan angkot tujuan Cisarua berwarna biru, kejar mengejar angkot seperti lari dari kejaran anjing bulldog, tanpa harus berlari jauh kami pun langsung naik angkot menuju Cisarua, dan macet pun menghadang, tapi jujur saya begitu salut dengan skill mengemudi pak supir yang cukup beringas dan sebenarnya cukup berbahaya terhadap pengendara lain, demi mengejar waktu beliau menerobos jalan perlahan-lahan dan melewati jalan tepi yang sudah keluar aspal, perumpamaan nyata dibuktikan oleh supir angkot bahwa "Waktu Adalah Uang". tanpa basa basi macet pun dibantai beliau meskipun sedikit mengguncang kami yang berada didalam waktu itu, salip sana salip sini dan kemudian pemberitahuan pak supir menenangkan kami "dek itu udah di Taman wisata matahari" beritahu si supir, "bener mas udah sampai?" tanya salah satu diantara kami, "Iya itu udah sampai" tekan si supir. dan akhirnya dengan berlutut lalu berteriak kami sampai di Taman Wisata Matahari. Kita sampai!!
 |
| Taman Wisata Matahari dari sudut kamera Xiaomi Mi 4. |
"Langsung saja!", menjadi sebuah kalimat kami begitu sampai disana, menuju loket untuk pembelian tiket, seperti paragraf pertama yang sudah saya berikan tanda kurung kenapa kami memilih tempat wisata ini karena M-U-R-A-H, Murah! tiket perorang dihargai Rp. 25000, selain itu kami juga digratiskan untuk menikmati 4 wahana bermain dan diskon 10% jika makan di resto Sunda Express.
 |
| Beda dengan wisata di Kalbar yang perorang Rp. 50000, gak ada gratisnya lagi! |
Tapi permainan gratis itu saya tepis, karena saya ingin mencoba arung jeram terlebih dahulu, setelah masuk ke dalam saya pun mencoba mengajak teman-teman langsung menuju loket permainan Arung jeram. Rame menjadi kata yang mendeskripsikan kondisi saat itu, saya melihat kolam renang yang benar-benar dipenuhi oleh anak-anak, sambil menggelengkan kepala dan dalam hati berkata "kasian mereka masih kecil sudah harus mandi kolam air yang bercampur dengan zat urine" sungguh orang tua yang ironis demi kebahagiaan anaknya kesehatan jadi taruhan. tanpa menghiraukan mereka mata saya tetap menoleh ke kiri dan ke kanan mencari loket Arung Jeram, "nah ketemu!" seru saya. langsung saja saya menghampiri mbak-mbak penjaga loket, karena rame kami masuk dalam waiting list setengah jam lagi, singkat cerita kami sudah berpakaian lengkap safety seperti helm dan safety jacket. Pemandu kami saat itu orangnya cukup asik dan ramah, kami diinstruksikan seperti maju, berarti harus mendayung maju, mundur, berarti harus mendayung mundur, dan Stop berarti tidak boleh mendayung sama sekali. Begitu perahu karet kami mulai didorong menuju tengah aliran sungai kami mulai mendayung, tabrakan batu yang mengguncang kami justru membuat kami semakin seru! tapi nyangkutnya perahu ke celah-celah batu justru lebih sering kami rasakan mungkin karena posisi Edy yang saat itu seorang diri berada di tengah, lihat fotonya:
 |
| ini pas nyangkut! |
Menariknya itu tanpa disadari ada sejumlah fotografer yang bertugas fotoin kita-kita tapi begitu mau di copy perfoto dihargai Rp.10000 dan kalau dicetak harganya Rp. 25000/foto. Selain Arung jeram kita juga main flying fox. harga tiket Flying Fox Rp. 25000/orang, lintasannya juga jauh dan tinggi! Sofian yang takut ketinggian tersebut kami paksa untuk ikut main juga! beliau sempat kejang-kejang sebelum terjun, ironis!.
 |
| Willy |
 |
| Candrawati |
 |
| Sofian |
 |
| Erna |
 |
| Edy |
Setelah bermain Flying Fox, kami mencoba bermain perahu karet, disaat itu saya duduk di ujung perahu sembari mendokumentasikan mereka berempat mendayung perahu karet tersebut. Singgah di tempat yang berjualan makanan cemilan, tak luput kami lupakan! mencoba mengelilingi taman wisata dengan bus yang disediakan tapi harus membayar Rp. 10000/orang tak jadi masalah!, dan juga sekaligus foto-foto menjadi akhir dari permainan kami di taman wisata Matahari.
 |
| dayung mendayung di perahu karet, dan kemudian tenggelam. |
 |
| Maaak kamek beli oleh-oleh. |
Setelah puas bermain-main di Taman Wisata Matahari, jam juga sudah menunjukkan 17.30 wib dan tutupnya taman wisata ini adalah jam 17.00 wib kami sudah molor setengah jam, lalu kami segera menuju jalan keluar dari tempat ini, langkah jejak pun tertinggal disana menjadi sebuah kenangan seru yang pernah terukir disana bersama teman-teman. dan sekali lagi kita kembali mengejar angkot di kota hujan, kejar mengejar angkot menjadi penutup kegiatan kami, dan namanya juga kota hujan, hujan pun turun dengan deras seakan menjadi pertanda kesedihan kota Bogor dalam perpisahan kami kali ini, cielah. keseruan pun tak berakhir begitu saja didalam angkot obrolan kami yang begitu dominan diantara penumpang lain membuat salah satu penumpang yang tiba-tiba bergabung dalam percakapan kami, beliau orang Sulawesi saya gak tau namanya siapa karena kami tak sempat berkenalan. Beliau pun juga bercerita tentang tanah kelahiran beliau di Sulawesi mulai dari biji kopi sampai cerita adat istiadat upacara pemakaman disana dan tentang mayat yang bisa berjalan sendiri, serem. kami pun berpisah dengan beliau di stasiun Bogor. melanjutkan perjalanan pulang menuju Jakarta dengan menggunakan kereta neraka lagi, hanya berbekal Roti O didalam kereta yang cukup untuk mengganjal lapar kami didalam kereta dan di kereta kali ini kita bisa mendapatkan tempat duduk, dan duduk hingga sampai di Jakarta. dan juga tidak lupa kami harus berjalan kaki sejauh 500 meter dari stasiun tapi beruntung kami menemukan Bajaj, 5 orang dengan bobot 55kg/orang kecuali Edy bobotnya pasti lebih dri 55kg, kami pun masuk ke dalam bajaj sambil pangku-pangkuan, yang saya takutkan adalah bajajnya tiba-tiba standing karena berat yang lebih menekan di belakang, tidak sampai 10 menit kami sampai di apartemen dan menyempatkan diri untuk singgah di indomaret sembari bercanda dengan pelayan dan kasir indomaret.
 |
| Terpaksa karena uang belanjaan gak cukup. |
Membeli beberapa bungkus mie instant untuk makan malam kami, secara tak sengaja saya mengajak mereka untuk melakukan ritual Melepet (apa itu Melepet? baca:
4 Budak Melepet). Akhir yang menjadi akhir perjalanan kami seharian itu, Excited banget! meskipun lelah liburan kali ini sangat seru, berawal dari desak-desakan di kereta, kejar mengejar angkot, bermain di taman wisata sampai lupa umur, hingga bertemu orang Sulawesi dan menikmati rintikan hujan di kota Bogor. kenangan yang tak bisa saya lupakan meskipun capek tapi apa yang didapatkan melebihi dari jumlah bobot capek saya waktu itu. kini artikel perjalanan saya sudah terlampau sangat panjang, semoga tidak membuat anda bosan ketika membaca, dicicil juga boleh. Perjalanan benar-benar sangat menyenangkan jika kita belum tahu apa yang akan terjadi disana, begitu banyak kejutan yang kami terima membuat kami jadi lebih bersemangat! See you for next trip.