What A Different Red And Green?

Diberdayakan oleh Blogger.

Minggu, 20 Januari 2019

Melancong Gratis ke Pulau Dewata


    
                                
     Halo hai hai... welcome back to my blogger channel! sudah sekian lama saya tenggelam tanpa postingan di blog saya ini, ya meskipun blog ini hanya menjadi penikmat bagi sebagian khalayak netizen yang tidak banyak tapi sekarang kini saya akan membuat satu tulisan kembali mengenai perjalanan saya di Bali saat Agustus 2018 lalu, perjalanan dengan bayang-bayang aib dimana gue harus pura-pura membuat surat sakit di klinik dokter setempat demi selembar tiket PP menuju Denpasar hehe.. ampun ya gusti.. semoga bos gue gak baca postingan ini. Amin. 

Perlu diketahui oleh netizen bahwa kali ini perjalanan gue ke Bali juga merupakan perjalanan dinas dari Kementerian Agama untuk menghadiri kegiatan Building Character yang dihadiri oleh semua perwakilan pemuda Buddhis di Indonesia dari Aceh Hingga Papua, dan perlu diketahui juga tiket ini diberikan secara cuma-cuma jadi gue cuma bawa badan, bawa koper dan bawa pomade (wajib). kebetulan dari Kalbar perwakilannya ada 2 orang, yaitu gue sendiri dan teman senusa sebangsa yang sama-sama bermata sipit dari Singkawang yaitu bu Susi (gue sebut ibu aja mumpung lu udh nikah sus!). 

oke lupakan tentang kegiatan Building Character, kegiatan yang akan dibahas disini adalah kegiatan gue selama jalan-jalan ke bali dari mulai kepedesan babi guling hingga gue lari lari di bandara karena hampir ketinggalan pesawat pulang seperti kejar-kejaran di film Mission Impossible 6, jadi lets check out kita kupas satu-persatu.

Berawal dari ketemuannya gue sama susi di bandara agak sedikit gila menurut gue, dimana bu susi otw dari singkawang menuju bandara Supadio ditempuh dari jam 3 subuh menggunakan taxi, hal yang paling gue takutkan adalah kedatangan bu susi yang telat, tapi jikapun beliau telat, perjalanan tetap akan gue laksanakan hehehe.. tapi apa daya ternyata setelah gue sampai di bandara bu susi sudah sampai duluan dan seketika ketika gue nelpon "lagi dimana sus?", "aku udh di bandara depan AW". dan seketika gue melongo, taxi apa yang dia gunakan hingga bisa secepat itu sampai di bandara, tapi pastinya bukan fake taxi lol.....

lalu tak lama setelah saling sapa kita check-in menuju bandara, dan seperti biasa jika masuk bandara ada pemeriksaan x-ray dari barang bawaan hingga di "raba-raba" oleh petugas apakah ada barang tajam dalam tubuh kita (barang gue tumpul kok mas :) ), dan yang paling merepotkan adalah dimana kita, ya kita... harus ngelepas semua bentuk barang mengandung logam yang melekat dengan jasmani yang hina ini, ya salah satunya adalah ngelepas ikat pinggang, dimana celana gue mesti kedodoran sambil masuk ke bandara, setelah melalui pemeriksaan.. oke! kita bagai produk yang lolos tahap uji untuk masuk ke bandara, segera melakukan proses berikutnya.. setibanya di dalam pesawat gue dan susi duduk dengan santai sambil cengar cengir... ke bali woi! otw bali!! teriak seorang pemuda dalam hatinya yang baru pertama kali melakukan perjalanan ke bali dan GRATIS! hehehehehe... dan pesawat pun take off.. 

"Mayday mayday..." itu bayangan gue jika pesawat tiba-tiba terbakar, krik krik krik.. oke lupakan!

Lanjut, setiba di bandara Soekarno Hatta gue dan susi mengalami delay.. ya delay hal yang paling membosankan yang dialami kedua penumpang ini, dimana gue harus menunggu selama 2 jam untuk take off ke denpasar lagi. sembari jalan-jalan di bandara dan cek grup WA tak sengaja gue membaca bahwa salah satu teman kita dari Tanjung Pinang juga mengalami delay, dan daripada gue gak jelas di bandara melongo dan melihat orang-orang yang lewat kesana kemari gue memutuskan untuk nyari teman gue dan ketemuan. tak lama kami keluar tampak seorang gadis dengan rambut pendek menggunakan topi, ya itu dia si Nata si gadis yang lebih tua dari gue yang jago sekali menyanyi dan selalu diundang untuk mengisi banyak acara salah satunya saat Musyawarah Nasional VI di Semarang pekan lalu, temu sapa gue dimulai dari  "eh udh berapa lama delay lu?"

Kemudian setelah bertemu dengan Nata, bincang-bincang hangat pun dimulai kala delay itu sudah seperti acara talkhsow "Rosi" di Net Tv saja, dan kemudian ternyata pesawat yang kami tumpangi memiliki nomor yang sama dan itu tandanya adalah kita berada dalam satu pesawat yang sama. menunggu tak tentu dan akhirnya penerbangan kedua kami dilanjutkan dengan pemberitahuan microphone di bandara, tak butuh waktu lama kami sudah berada di pesawat, dan tadi di pesawat sebelumnya gue duduk di tepi dekat jendela, dan sesuai kesepakatan gue dan susi kita ganti-gantian duduk di tepi, dan untuk yang ke Denpasar itu giliran Susi. yaah sesuai kesepakatan gue duduk di tengah.
Momen dimana gue numpang foto hehehe.

Saat take off dan duduk di kursi dengan sandaran tegak, gue coba memperhatikan keadaan sekitar. melirik sana sini melihat penumpang lain, setelah dilihat-lihat emang tampak berbeda sekali penumpang-penumpang yang hendak ke Denpasar ini... sebagian dari mereka adalah turis mancanegara mulai dari yang rambutnya pirang hingga ada bapak-bapak turis yang punya bulu dada pirang juga ada! buset dah itu bulu dada di catokin juga mas tiap hari?, kemudian gue mikir lagi, emang beda penumpang yang hendak ke Denpasar ini dari segi pakaiannya gaya-gaya makhluk traveling dari yang kelas pas-pasan hingga kelas premium semua ada dalam pesawat dengan tujuan yang sama, ya tujuannya holiday! fashion style mereka nampak sekali berkelas dari ibu-ibu yang make topi wisata hingga ibu-ibu dengan baju pantainya yang sudah digunakan dalam pesawat, tapi untungnya tak ada satupun ibu-ibu yang pake bikini.

Dan akhirnya kami mendarat di Bandara I Gusti Ngurah Rai, touchdown di pulau Dewata Bali hal yang pertama gue lakukan di Bali adalah gue nyobain toilet umum di bandara dan ini sudah kewajiban, karna gue udh kebelet dari sejam yang lalu, ini sudah bagian dari ritual gue kalau udah turun dari pesawat hehe. Dan setelah itu kita menuju hotel setelah pengambilan bagasi saat mengambil bagasi, gue ketemu Ko Henty dari Jambi salam sapa mencuat di antara kami bagai saudara kembar yang sudah terpisah sejak lama dan dipertemukan kembali :)). tapi sayangnya pertemuan itu hanya sebentar saja kita pun berpisah di pintu gerbang karna jemputan yang berbeda. dan sebenarnya kami ini (gue dan Susi) numpang dengan temannya Nata yang juga cikal bakal jadi teman kami juga haha, itu dia ce Kartika orang orisinil Bali yang pekan lalu juga ikutan acara Musyawarah Nasional VI di Semarang, gue ingat saat closing ceremony mereka berdua featuring nyanyi di panggung, suaranya itu sudah bagai alunan kecapi China merdu nan ugh ugh... sejumpanya kami dengan ce Kartika, kita pun diantar menuju hotel. sepanjang perjalanan menuju hotel emang beda, Bali punya nuansa asik penuh artistik tanpa intrik intrik politik, kotanya membuat mata menggelitik tanpa ada untaian kritik dipikiran gue, Bali tak hanya sekedar "wik wik" kota ini penuh dengan landmark dan sebuah landmark yang membuat gue terpukau itu adalah patung Satria Gatot Kaca yang terletak di bagian timur bandara sungguh indah menawan.

Nah ini Dia Patung Satria Gatot Kaca (sumber: Patung Satria Gatot Kaca)
Dari setiap ukiran patung itu sungguh penuh totalitas dari si pengukir, begitu terlewati bahkan leher ini tetap auto ngelirik ke belakang dan kemudian hilang di pelupuk mata, pemandangan tak usai begitu saja, Bali selalu punya banyak landmark yang menawan salah satunya itu GWK atau dikenal Garuda Wisnu Kencana, tinggi dan besarnya sungguh menjadi pusat perhatian bagi para turis di pulau Dewata ini (gue sudah seperti wartawan yang melaporkan laporan perjalanan hehe), tak terasa kami pun tiba di hotel setelah melalui proses check-in dan registrasi ulang, gue akhirnya dapat sebuah kamar, rehat sebentar sambil menunggu teman sekamar gue, Ko Wiwid dari jakarta yang baru saja landing di bandara dan akan tiba sekitar beberapa menit lagi ke sini, sembari itu gue rehat-rehat bentar mulai dari bujurin kaki hingga kayang-kayang gak jelas di sudut ruangan, ah sudahlah.. 

Malam pun tiba, hangout kami pun dimulai dengan berkumpulnya semua teman-teman Alumni Munas VI PATRIA kemaren di Semarang, ini sudah seperti acara reunian akbar teman-teman sekolah hehe, berawal dari jalan-jalan ke Pantai ditemani oleh beberapa teman PATRIA Bali ada Ko Kangge, Ko Adnyana, Ko Zendy, Ko Dedes, dan lain-lain yang gak bisa gue sebut satu persatu hehe. kemudian kami diajak untuk mengitari jalanan kota Kuta, kiri kanan gue lihat bar, cafe, pentas musik, 7-11 dan yang paling banyak gue lihat selain itu adalah money changer, ya karena bali penuh dengan turis-turis mancanegara, layanan Money Changer menjadi sasaran warga lokal untuk dijadikan bisnis menghasilkan rupiah dengan menukarkan uang asing ke bentuk rupiah, ibarat lu ngejual rupiah demi dapetin rupiah simplenya begitu hehe. kemudian lapar pun tiba, nasi Babi Guling yang menjadi andalan kuliner khas Bali ini menjadi target kami pada malam itu, sampai kita di warung pinggiran Nasi Babi guling kita mulai memesan makanan tersebut beginilah kira-kira bentuknya.

Beginilah penampakannya Nasi Babi Guling.
Nikmat tiada tara untuk menggambarkan makanan seporsi ini, tapi pedesnya itu ampun bener dah bukan level cemen, bagi kalian yang suka pedes ini jadi kulineran kalian yang wajib di Bali, rasa babi dan pedesnya nendang hingga ke urat-urat leher. bagian yang paling enak nurut gue itu kulitnya pedes-pedes tapi crispy gitu, seporsi nasi babi guling pun nikmat tersantap sudah seperti makanan surgawi bagi kami saat itu tapi pedesnya lumayan buat bibir jontor hehehe. selesai makan kita jalan-jalan lagi dan ini beneran jalan-jalan karna kita gak pake kendaraan apapun beneran jalan kaki dari sana ke sini dari sini ke sana haha, dan lebih tepatnya gua lupa arah kemana perjalanan kami malam itu, tapi yang masih gue ingat adalah ketika melalui sebuah lokasi dimana bar-bar bergelimpangan di setiap kiri dan kanan jalan raya, ya boleh dikatakan ini merupakan ajang cuci mata buat kaum adam, karena kalian lihat saja mereka semua bergoyang-goyang ria, badan meliuk-meliuk di panggung bagai belut, wanita pria semua jadi satu dalam panggung, entah mereka ngefly atau sange itu udah jadi satu kesatuan, musik dentuman DJ juga mengundang kepala gue untuk ajeb-ajeb angguk-angguk tapi semakin gue merhatiin semakin temen-temen gue berjalan makin jauh tinggalin gue, woi tunggu woi!, jalan semakin jauh gue mulai merhatiin plang-plang jualan di bali yang nurut gue itu unik dan kreatif, pengolahan kata yang bersifat marketing dengan campuran genre komedi membuat kita yang membaca itu menjadi guyonan receh namun mampu melepaskan hormon endorfin ya istilahnya buat senyum-senyum sendiri...
Ini yg jualan maksa banget :)
Asli ini yang salah satunya bikin maksa buat belanja, boleh dikatakan bali punya segudang inspirasi buat kita yang dari luar, sudut pandang gue berubah terhadap Bali yang gue tau cuma ada bule bikini tapi ternyata tak sedangkal itu, Bali punya masyarakat yang artistik penuh seni dan kreasi.. masyarakat Bali itu ramah nan bersahabat terbukti saat gue nyobain makanan sate babi bawah pohon yang terkenal banget di bali, kita dianterin oleh salah satu driver mobil sewaannya teman kita si Fang-fang dan Rudi dari Palembang, kita nimbrung dan ditawari untuk ikutan.. driver mobil itu gue lupa namanya siapa karna iya gue juga gak kenalan sama si bapak, tapi beliau ramah dan rame sekali orangnya sepanjang perjalanan bapak selalu cerita tentang histori-histori tempat yang kami akan tuju, frekuensi pembicaraan selalu nyambung dengan kami serasa bapak bisa telepati pikiran kami haha
halo bapak, sehat selalu pak!
Dan setelah habis ngebabi di sate babi bawah pohon, kita menuju destinasi selanjutnya.. apa lagi kalau bukan ke pantai untuk berburu bule bikini desiran ombak dan pesisir pantai, Pantai Pandawa jadi tujuan kami kala itu, pantai yang mantul itu, tiket masuknya murah seharga kocek jajan anak SD saja.. tak lebih dan tak kurang seharga Rp. 10.000, Pantai ini punya tebing yang erotis di antara jalanan masuk menuju pantai dan kerap kali dijadikan salah satu spot untuk foto prewedding, tebing hitam kecoklatan ini tinggi menjulang tampak seperti benteng zaman perang.
Pantai Pandawa, mana pantainya?

ini dia Pantai Pandawa dan rombongan kami! (yang pake motor di kanan bukan)
Sejujurnya foto ini sempat gue rahasiakan untuk diposting karena masih ada aibnya gue yang sempat gue uraikan di paragraf awal di tulisan ini hehehe tapi ya karena sudah berbulan-bulan rasanya akan aman saja hehe. Balik lagi mengulas, Pantai Pandawa itu asik penuh gemuruh ombak yang tinggi namun sepertinya bukan menjadi salah satu spot untuk peselancar, lalu disini kita bisa berjalan-jalan sepanjang pesisir pantai sambil bermain air.. dan Pantai Pandawa menjadi salah satu destinasi yang wajib masuk itinerary kalian kalau berkunjung ke Bali, kemudian esok harinya adalah hari terakhir kami di Bali dan jam boarding pesawat kami menunjuk jam 16.00 WITA, berarti kami masih bisa mengunjungi satu tempat di daerah Bali dan terpilihlah Tanah Lot, kita pun berangkat ke Tanah Lot dari jam 9 pagi, setiba disana kami cukup disuguhi dengan berbagai macam toko souvenir yang memanjakan mata dan menghipnotis pikiran kami untuk beli.. beli.. beli.., saya hanya tertarik dengan kaos tanpa lengan yang dijual cukup murah disana dengan catatan kalian harus nawar harganya juga. berjalan dan berfoto di sepanjang Tanah Lot yang selalu kami lakukan saat itu, di Tanah Lot suasana adat istiadat sangat kental disana karena ada satu daratan kecil yang dijadikan mereka sebagai tempat pemujaan kepada Dewa dan sayang sekali kita tak bisa menapak ke sana karena saat itu air laut cukup menggenang jalanan menuju ke sana, mungkin Dewa sedang tak berkenan orang hina ini untuk singgah ke sana haha.
Wajah hina pun tampak.
setelah kita mengitari kawasan sakral, kami menuju ke bandara bersama teman-teman.. dan jam telah menunjukkan jam 2 siang, tersisa 2 jam lagi menuju ke bandara.. dan kecemasan saat itu tiba ketika kami melintasi jalan Kuta, dan apa yang terjadi.. iya bener.. Macet, kami terjebak macet.. disaat itu macet cukup parah dan membuat antrian mobil-mobil bagai sekumpulan badak besi kurapan yang tak berdaya.. apa daya gue cuma bisa cemas-cemas di mobil dan mulai mikir-mikir cara alternatif apabila ketinggalan pesawat, mulai dari cek tiket baru di traveloka, cek rute perjalanan yang tidak macet dan kemudian berdoa dalam mobil mengharap mukjizat.. dan Susi juga mengalami shock therapy saat itu juga sama dengan gue, kepanikan dalam mobil terjadi ketika teman-teman mulai bertanya "pesawat lu jam berapa wil?", teman yang lain pun mulai menelusuri Google Maps melihat rute tercepat dan termulus tanpa macetan, tapi ternyata tak ada jalan lain.. kami harus melalui macet ini sambil harap-harap cemas, mobil yang maju hanya setengah meter saja dari tadi makin menguatkan rasa cemas gue.. namun setelah keluar dari macet itu, banting setir ke jalan besar Sunway dan mobil pun melesat jauh dengan kecepatan tinggi jalan cukup mulus di daerah itu tampak jam sudah menunjukkan 15.45 kamipun baru saja melalui bundaran, masih penuh kecemasan dan kepanikan seketika tiba di bandara gue langsung ngeluarin koper, barang bawaan dan oleh-oleh. Susi yang masih tak kunjung sampai membuat gue makin cemas, apa gue mesti tungguin beliau? dan pilihan gue waktu itu.. gue masuk duluan untuk check in karna tak berselang lama susi mengirimi pesan chat bahwa dia bentar lagi sampai, syukur saja koper susi ada di mobil kami jadi gue bisa langsung bawain untuk masukin ke bagasi. 

Sambil berlari mendorong troli, tak sempat lagi mengucapkan terima kasih hanya lambaian tangan yang gue beri ke teman-teman, tapi jujur gue makasih banget buat effortnya yang udah berusaha nganterin secepat mungkin. gue pun masuk dan menuju loket check in, tak berselang lama hape gue ditelpon susi.. dan cukup lega bahwa dapat informasi beliau udah sampai di bandara gue cuma bilang "Sus cepetan masuk di loket 46 masuk belok sebelah kanan" susi pun berjalan cepat hingga berlari sambil menenteng tasnya, wajah susi pun tampak dan segera menghampiri gue.. kita pun berhasil check in tapi mendadak terpanggil final call atas nama kami, sontak kami berlari tergesa-gesa menuju pesawat dengan penuh keresahan dan kebingungan kami bagai pelaku kriminal yang dikejar-kejar FBI, melihat kanan kiri dan bertemu petugas dan menyempatkan untuk bertanya.. dan kami pun menuju gate yang tepat tapi sialnya, kami harus melakukan pemeriksaan x-ray sebelum masuk ke pesawat yang antriannya sudah memanjang lebih dari 20 orang, apa yang terjadi... kami sempat pasrah apakah ini kutukan orang banjar yang beneran akan terjadi, oh tidak bisa.. gue dan susi langsung menghampiri petugas dan meminta untuk diperiksa terlebih dahulu karena kami sudah final call, kemudian petugas langsung mengiyakan lalu gue langsung menerobos antrian, kami menjadi pusat perhatian bule-bule saat itu mungkin mereka sudah menggerutu karena kami menerobos, tapi sayangnya mereka tak merasa hentakan nafas kami sudah seperti nafas kuda karena cemas, capek, dan panik.

Pemeriksaan selesai! kami berasa merdeka sembari masih berlari menuju pesawat, susi yang sudah tampak pucat pun masih mengerahkan kemampuannya, tiba akhirnya, kami masuk menuju bis yang mengantar ke dalam pesawat. masuk, duduk dan bersandar... lalu kami saling pandang mengakhiri kejadian itu dengan tertawa.. "astaga susiiii! hahaha" teriak gue, "iya will gila dah haha" balas susi. kami akhirnya bisa bernafas lega wajah susi pun tak pucat kembali sedia kala, dan perjalanan ke Bali yang penuh adrenalin ini kami tutup dengan sebuah kegilaan dan tragedi menegangkan, seru bercampur resah semua jadi satu. dan akhirnya kami take off menuju Pontianak dan selamat hingga tempat tujuan. Bali kini jadi kenangan seru dan menegangkan bagi gue, dan kelak gue ketemu teman-teman ada banyak hal yang bisa gue ceritakan tentang Bali.

Satu kata untuk Bali bagi gue.. Bali itu ASIK!

Sekian penguraian cerita singkat namun panjang lebar ini, semoga anda terhibur dengan tulisan gue! Salam gue, Willy.

Minggu, 24 Juli 2016

Seberapa Tinggi Harga Dirimu Hingga Mampu Merendahkan Dirimu?



"Gue gak terima Diginiin!! Gue juga punya Harga Diri!"
Sebuah kalimat yang sering kali kita dengar pada saat orang-orang merasa direndahkan ataupun diremehkan oleh orang lain, ya sebuah ungkapan yang terucap dengan 1 oktaf yang lebih tinggi karena merasa tidak dihargai maupun diabaikan, namun apakah sebuah ungkapan emosi panas mampu mencairkan suasana yang tegang menjadi lembut dan hangat? saya rasa tidak. sedikit tulisan ini mungkin akan membantu kamu mengenal harga dirimu dengan pemahaman yang tepat. Let's roll it! 

Seberapa Tinggi Harga Diri Yang Dipertahankan Hingga Membuatmu Menjadi Arogan?



Seberapa tinggi harga diri yang dipertahankan? hingga membuat suatu permasalahan yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan kerendahan hati namun harus diselesaikan dengan sebuah cekcok mulut yang tiada akhir yang berujung menjadi dendam hati yang terpendam. Seringkali ketinggian harga diri mendasari sikap acuh tak acuh terhadap orang lain dan merasa arogan serta sombong memicu seseorang untuk tidak menghargai diri orang lain bahkan termasuk dirinya sendiri. 


Menghargai Orang Lain Lebih Baik Daripada Menjunjung Harga Diri Yang Berlebihan.



Menjunjung harga diri ya boleh-boleh saja asal jangan berlebihan sampai kamu lupa untuk menghargai orang lain ada pepatah mengatakan "Hargailah orang lain agar dirimu dihargai oleh orang lain juga..", sebelum belajar untuk menghargai diri sendiri prosedur pertama yang harus dilakukan adalah belajar untuk menghargai orang lain dilingkungan sekitar anda dan tentunya tidak mendiskriminasi dan memilih-milih karena seutuhnya semua orang diciptakan sama hanya ego saja yang membedakan.

Merendahkan Hati Bukan Berarti Harga Dirimu Jadi Rendahan.



Meskipun penilaian orang lain terhadap kamu sudah dianggap mampu menjaga harga diri dengan baik bukan berarti membuat anda boleh tinggi hati dan mulai membanding-bandingkan dengan mereka yang bisa dikatakan tidak menjaga kehormatannya dengan baik, justru sebaliknya tetap jadi pribadi rendah hati dan peduli kepada mereka, ya meskipun diantara mereka pernah meninggalkan jejak dalam merendahkan anda tetaplah berendah hati karena sesungguhnya anda tidak menjadi rendah, tetapi anda dilatih untuk memiliki kualitas sesungguhnya dari sebuah harga diri yang anda miliki.

Dengan Memaafkan, Kamu Telah Memperoleh Kualitas Harga Diri Yang Tak Ternilai.



Seringkali dihidup ini ada beberapa orang yang pernah menyakiti, melukai bahkan menghancurkan harga diri anda, kadang marah dan pembalasan seakan menjadi satu-satunya jalan untuk melepaskan pelampiasan yang tak bearti, tapi jika kamu mampu memaafkan mereka, tanpa disadari kamu telah mengupgrade harga dirimu menjadi suatu kualitas yang tak ternilai harganya sama halnya dengan sebuah bongkahan berlian yang diasah berkali-kali hingga menjadi suatu perhiasan yang memiliki nilai tinggi, sejatinya belajar memaafkan bukan berarti anda adalah orang yang lembek justru itu membuatmu dinilai oleh orang lain bahwa kasihmu terhadapnya jauh lebih besar dari rasa bencimu.

Harga diri itu penilaian! bukan label harga yang tertera.


Pemahaman yang tepat mengenai harga diri adalah penilaian. Penilaian seseorang terhadap diri kita, jika kita menampilkan segala bentuk negatif karena over self esteem yang mendasari Arogan, Tinggi Hati, dan Kesombongan maka secara tanpa rekayasa orang-orang disekitar akan menilai rendah harga diri kita dan sebaliknya jika bentuk positif yang ditampilkan seperti Kerendahan Hati, Pemaaf, dan Menghargai orang lain akan menjadi landasan kita untuk dinilai orang lain bahwa kita telah menjaga kehormatan maupun harga diri dengan baik. Jadi seberapa tinggi harga diri yang anda miliki? jawabannya, Priceless.

Kamis, 21 Juli 2016

What A Different Red And Green?


"Eh main tebak-tebakan yuk?"
"Ayuk! Kamu kasih petunjuk biar aku yang nebak."
"Iya, Nih petunjuknya.. Kakinya ada 1, matanya ada 3, matanya ada warna merah, kuning, dan hijau. hayoo apa itu?"
"Hmmm... Ah aku tahu aku tahu itu Lampu Lalu Lintas!"

Begitulah permainan tebak-tebakan saya waktu masih menjadi manusia yang dikategorikan bau kencur. mengenai tebak-tebakan tadi yang bertema Lampu Lalu Lintas menginspirasi saya untuk membuat tulisan ini khusus untuk anda dan juga saya sendiri tentunya, saya menjadi teringat beberapa kejadian yang sering kali terjadi di perempatan jalan yang sedikit beringas, kenapa beringas? ya kita tahu sendiri sekarang aturan-aturan yang berlaku sudah sering dilanggar oleh beberapa orang termasuk saya sendiri dulunya. Lampu lalu lintas kini hanya sebagai tiang hiasan jalan di setiap perempatan, beberapa pengguna jalan sudah tidak mengenal lagi arti dari sebuah warna di tiang tersebut, seakan-akan mata mereka semua buta akan warna dan tak lagi bisa membedakan 2 warna yang cukup berbeda secara signifikan ini.

Yang kiri Apel Hijau dan yang kanan Apel Merah.

Sudah baca caption di foto tersebut? pasti terlintas dibenak anda, "Captionnya salah! yang kiri Merah yang kanan baru hijau", jika ada berpikir seperti itu lantas saya ucapkan selamat berarti mata anda masih baik-baik saja, namun jika anda baru menyadari kesalahan dicaption saya, berarti anda butuh sebotol Aqua. saya rasa semua orang pasti bisa membedakan 2 warna ini dan yang jadi pertanyaan, mengapa tidak bisa membedakan 2 warna ini khususnya di Lampu lalu lintas? saya rasa semua orang sudah belajar mengenai ini dan tidak perlu sampai orang lain menjelaskan bahwa Lampu Merah yang berarti berhenti, Lampu Hijau berarti Jalan, dan Kuning yang berarti Hati-hati, ketika di otak kita sudah terekam mengenai arti dari ketiga lampu ini, lantas kenapa masih saja banyak pengendara yang masih saja melanggar lampu lalu lintas, dan saya pernah bertanya kepada teman-teman saya yang rata-rata adalah pengendara kendaraan bermotor, saya bertanya "kenapa anda melanggar lalu lintas?' dan jawaban yang saya dapat beragam jenis;

"Terpaksa melanggar karena pingin cepat.", iya sih cepat, tapi mau cepat mati juga?

"Eh ngelanggar sih, soalnya biasa udah telat." kalau telat yang bangun lebih awal, emang mau kecelakaan lalu gak bangun lagi?

"Gak ada polisi ya langgar ajaa." Kalau ketahuan? kemudian ditilang sama polisi dan di denda barulah fotoin petugas polisi dan post di media sosial kemudian kasih keterangan "Polisi makan duit rakyat!"

"Peraturan ada kan untuk dilanggar bos!" kalau gitu istri anda dilecehkan orang lain gak apa-apa dong, kan aturan ada untuk dilanggar.

4 alasan freak! yang sering saya temui dalam mempertanyakan hal seputar melanggar lalu lintas, bagaimana bisa anda menasehatkan anak anda untuk tidak melanggar sedangkan anda sendiri melakukan hal tersebut, ingatlah perilaku dan sikap kita merupakan sebuah contoh yang bakal terekam dipikiran sang anak, apa yang kita contohkan akan ditiru oleh mereka. kita butuh sebuah kesadaran terhadap hal ini, sadar akan bahaya dari melanggar lalu lintas, namun sayangnya kesadaran yang masih kurang terhadap bahayanya akibat dari melanggar lalu lintas. Salah satu akibat dari melanggar lalu lintas adalah kecelakaan. Kecelakaan merupakan pembunuh no 3 di Indonesia setelah penyakit jantung dan stroke, penyebab kecelakaan itu banyak faktor, faktor dari kondisi jalan, faktor alam, dan faktor kelayakan kendaraan. Tapi faktor pemicu yang membuat kecelakaan ini menjadi salah satu dari 3 finalis pembunuh adalah kelalaian manusia. Padahal manusia dikaruniakan sebuah pikiran yang dapat bekerja dengan baik dan tentunya digunakan untuk berpikir, tapi kenapa tidak mau berpikir akan bahaya dari melanggar hal ini? tiap tahunnya 28 ribu orang tewas karena kecelakaan, yang tewas kalau gak nabrak yang ditabrak sama pelanggar lalu lintas, ironis bukan. Dari segi sensus sih pelanggar-pelanggar ini membantu pemerintah dalam menangani kepadatan penduduk di Indonesia, namun apabila yang berkurang itu termasuk salah satu dari keluarga kita gimana? ya minimal anda akan menangis. Saya kerap kali merasa risih terhadap beberapa pengendara yang bisa saya katakan tidak mengerti akan rambu-rambu lalu lintas, selalu saja ketika lampu lalu lintas berwarna merah dan angka detik menunjukkan 4-5 detik lagi menuju lampu hijau, mereka sudah merasa gak sabaran dan mulai mengklarkson pengendara didepan, saat itu saya menjadi kesal dan sangat menganggu, ingin rasanya saya berkata "kalau mau duluan silahkan pak, resiko tanggung sendiri." saya rasa 5 detik bukan merupakan waktu yang lama kenapa gak bisa menunggu sedikit lagi? kadang hidup tak sebercanda itu teman, marilah kita tanamkan sebuah kesadaran untuk tertib berlalu lintas karena dari diri sendiri orang lain juga akan ikut tergerak untuk mematuhi. semoga tulisan saya kali ini bermanfaat untuk meningkatkan kesadaran anda, dan mohon maaf apabila ada kata-kata yang kurang berkenan di mata anda. Terima kasih!

Selasa, 19 Juli 2016

Gaya Hidup Anak Sekolah Dulu Dengan Sekarang



Lucu ya hari ini tepatnya tanggal 18 Juli 2016 anak-anak sekolah sudah memulai kembali aktivitas sekolah seperti biasa, dan mereka juga pasti ada yang merasa seperti ini, "liburan sudah habis, waktunya belajar lagi",  "Ah liburannya masih belum cukup!!, "yeey asik bisa ketemu teman-teman dan selfie bareng", "huahaha sekarang saya udah jdi senior, gebetin junior dulu. (Padahal tampang kayak pantat bajaj)"


Kata pertama dari ketikan saya kali ini adalah Lucu, nah apa sih yang lucu? Setelah saya lihat beberapa postingan dan juga status mereka terasa sekali, saya seolah-olah masuk kembali ke dalam dunia nostalgia waktu sekolah dulu, thank you guys!. Dan disini saya melihat adanya perbedaan yang cukup signifikan antara yang dulu sama sekarang dan jika dibandingkan terlihat lucu juga, mulai dari Status, pakaian, makanan/minuman, dan lain-lain. saya akan coba sajikan satu persatu.

1. Status Updates.

Dulu waktu sekolah bisa update status di Facebook aja udah berasa senang banget, kayak tembus nomor togel 4 angka! kenapa seperti itu? karena dulu menjangkau internet sangat sulit dan kalau mau main Facebook mesti ke warnet tunggu berjam-jam hanya untuk update status, orang-orang kelahiran 93', 94', 95' tahu nih. Dulu belum ada yang namanya smartphone yang ada cuma stupidphone yang kalau dipake lempar anjing, anjingnya yang tewas. smartphone yang lagi trend saat itu hanya handphone bermerek Blackberry yang dulu dikatain sebagai handphonenya para artis (namun sekarang Blackberry bagaikan istri pertama yang di nomor duakan). Bagaimana dengan anak-anak zaman Sekarang? 10 menit bisa update 15 status, luar biasa! itu update status atau mau bikin molen pisang.


Dan biasanya statusnya itu tertulis tentang curhatan, doa-doa dan yang lebih sering cari perhatian. Nah cari perhatian ini sering banget dilakukan lewat status, mereka bahkan seperti haus akan sebuah perhatian bahkan rela mengemis perhatian, terutama perhatian terhadap lawan jenis. Bahkan ada yang sampai over cari perhatian, seperti mereka upload foto ataupun update status dan kemudian dia ngetag ke seluruh temannya (kalau nenek gua maen fb mungkin ikut ke tag juga) supaya dapat banyak like, komentar, dan terutama diperhatiin, dan parahnya lagi biasanya mereka tuh akan kasih kiriman tertulis seperti ini "Please like dan komennya ya..." kok jadi kayak ngemis ya? Contoh kecil juga, mereka upload foto selfie mereka yang sudah diseleksi dari jutaan foto di galeri dan kemudian dikasih keterangan "lagi jelek-jeleknya." berharap ada yang komentar gini, "gak jelek kok itu cakep" kemudian di balas "ih gak cakep itu jelek aa", dibalas lagi "gak jelek, cakep kok", "ih jelek aaa", begitu seterusnya sampai Jco jualan apam pinang rasa kulit manggis.

2. Style Uniform.

Lalu anak-anak zaman sekarang itu udah cool banget (saya bohong) kalau dilihat dari segi gaya berpakaian seragam, dari siswi-siswi yg udah suka pake celana di banding rok, dan mungkin siswa-siswa udah suka pake rok di banding celana, bisa jadi. Ironis sekali ya siswi-siswi yang sudah lebih memilih celana untuk menjadi style mereka dalam berbusana di sekolah, saya sedikit merasa kasihan sama siswa-siswa sekarang, kenapa? Karena kalau dulu siswi yang menggunakan rok itu terlihat lebih cantik, feminim, bahkan enak di pandang apabila resleting belakangnya lupa ditutup, dan sayangnya hal ini gak bisa terjadi lagi waktu sekarang, bukan rejeki kali yaa.

3. Food And Beverages.

Lalu dari segi gaya makan maupun minum, siswa/i sekarang makannya kelas kakap seperti burger, pizza sandwich, dan masih banyak yang gak saya ketahui, kalau dulu beli 1 buah kroket aja udah pada rebutan bahkan sampai bergulat di kantin, minuman yang ditenteng kemana-mana berlogo internasional seperti starbucks, asli premium banget. dulu bisa nenteng es tebu aja udah berasa kayak anak presiden, serius!

4. First Day Back To School.

Terus hari pertama masuk sekolah biasanya identik dengan wali kelas baru, dulu kalau dapet wali kelas kece palingan asyiknya cuma sama teman-teman sekelas, nah sekarang? Dapet wali kelas kece, dimasukin ke status disebarin ke dunia maya maupun dunia lain biar orang semua tahu dia punya wali kelas kece, beruntung banget tuh wali kelas, dipromosiin. selain itu yang sering terjadi waktu pertama masuk sekolah adalah murid-murid yang baru saja menyandang pangkat "kakak kelas" dengan begitu lagaknya dia berjalan-jalan bersama gerombolannya didepan adik-adik kelas sambil melirik mana target yang bisa digebet, mau sekolah atau cari jodoh?

Sungguh perbedaan yang unik sekali antara dulu dan sekarang tak bisa dipungkiri juga karena gaya hidup yang jelas sudah berubah hari demi hari, but it isn't problem. Labil itu merupakan suatu proses anak manusia menuju kedewasaan tapi labil lah dalam batas yang wajar dan jangan sampai overdosis, sadarilah kegiatan yang dilakukan kalau bisa jangan membuat orang lain terganggu seperti melakukan Broadcast Message Promotion PIN yang dalam 1 jam promosiin PIN teman-temannya sampai 10 kali (ini sudah terbukti dan saya yang jadi korban). Segala sesuatu akan selalu berubah, dan yang paling penting bagaimana kita bisa menghadapi perubahan tersebut. kalau saya menghadapinya dengan cara, mengetik bacotan ini.

Sabtu, 16 Juli 2016

Mengejar Angkot Di Kota Hujan


Kota Bogor menjadi destinasi kedua pada liburan saya kali kemaren bukan kali ini, di Bogor saya gak tahu ada apa disana ya palingan yang sering saya dengar itu disana ada beberapa tempat penginapan di puncak yang mungkin biasa saja hanya sedikit dingin, pada malam sebelumnya kami sudah searched beberapa taman wisata di Bogor dan hati kami jatuh kepada salah satu taman wisata bernama Matahari (karena murah).


Wahana Taman Wisata Matahari

Disana terdapat banyak wahana hiburan salah satu yang saya tertarik itu Arung jeram, lumayan untuk memacu adrenalin yang sudah tampak letoy akhir-akhir ini. Dimulai dengan dentuman bunyi alarm pada jam 7 pagi, salah satu handphone di antara kami berbunyi dan ternyata sumber suara berasal dari handphone saya, saya pun langsung terbangun lalu mematikan alarm dan kemudian seperti biasa saya menerawang dunia dengan media sosial yang saya miliki, hanya sekedar untuk mengecek notif gak sampai selfie lalu post di facebook kemudian di kasih keterangan  "baru bangun tidur #naturalface" dan kemudian muntah.

Setelah puas memanjakan mata dengan postingan-postingan bekas semalam di media sosial saya lanjut melakukan ritual pagi di toilet, you know lah. Teman-teman pun satu persatu bangun dan sambil menyambung nyawa mereka masing-masing, rasa lelah memang masih terasa gara-gara liburan kesasar tadi malam seolah-seolah tubuh ini terguncang seperti petikan lagunya Ebiet G. Ade (baca: Mengarungi Jakarta Dengan Ojek Online), pelan tapi pasti teman-teman pun bangkit dan move on dari 2 benda suci tak bertuan, bantal dan guling. Ada yang merebus air untuk membuat teh hangat dan kopi (Candra dan Erna), ada yang masih searching mencari destinasi bogor selain taman wisata Matahari (Sofian), ada juga yang masih terpaku pada layar handphone sambil memainkan game bergenre strategi (Edy) dan ada juga yang masih duduk ngeden di toilet memenuhi panggilan alam (saya sendiri), kemudian saya pun melanjutkan mandi di toilet untuk merefreshkan jasmani yang hina ini. Sehabis mandi saya tidak lupa untuk mengenakan baju dan celana untuk liburan, karena kalau sampai lupa bahaya ntar ditangkap satpol PP dikira jenis Musang langka berkaki dua membawa seekor burung tanpa paruh. Pada liburan kali ini saya mencoba untuk mengenakan pakaian berwarna merah dan kemudian teman-teman juga ingin mengikuti menggunakan baju warna merah biar kece, keren dan kompak. Namun sayang ada 1 teman yang gak punya baju warna merah, akhirnya musyawarah tingkat apartemen kontrakan pun dilaksanakan dan mengeluarkan keputusan bersama berupa; Surat Keputusan mengenai penggunaan seragam untuk liburan ke Kota Bogor adalah berwarna hitam, keputusan yang dibuat telah disepakati oleh semua pihak yang bersangkutan, dan tidak bisa diganggu gugat. Pemotongan pita keputusan pun dilakukan dan diakhiri dengan menyantap sosis babi yang telah saya bawa dari Pontianak dan sudah di goreng oleh Chef Erna dan Sofian.

Chef Sofian dan Erna.

Setelah semuanya selesai beres-beres, kami pun melaksanakan sarapan pagi dengan lauk seadanya, dan sosis babi yang saya sebutkan tadi itu bukan candaan, sosis itu menjadi pengisi pertama di lambung kami yang kosong kala pagi itu. saya memang membawa sosis babi titipan mama Candrawati dari Pontianak. Meskipun emang terlihat aneh namun nikmat sosis babi di pagi itu seperti makan sepotong burger McD dengan daging babi didalamnya, duhai gusti nikmat Tuhan mana yang kau dustakan! ketika makan, kami semua makan dengan tenang tanpa ada pergulatan dalam memperebutkan jatah sosis babi, Edy adalah teman saya yang cukup tangguh dalam menghabiskan semua lauk-pauk dengan sekejap. Dilihat dari fisik tubuh, kita sudah tahu bahwa Edy ini doyan makan maka beliaulah yang bertugas untuk menyelesaikan dan menghabisi semua makanan dikala Candra, Erna, Sofian dan saya telah kenyang, syukurlah.

Setelah makan, kami pun berkemas membawa pakaian ganti, handuk, kelelawar (kolor), dan kebutuhan yang akan kami gunakan saat di taman wisata Matahari, disini orang yang satu-satunya membawa tas backpacking adalah saya sendiri, so saya yang mesti membawa semua bawaan mereka, untung hanya pakaian saja kalau kulkas juga ikut dibawa bisa jadi saya bakal jualan minuman dingin di stasiun kereta, sambil teriak "yang haus yang haus yang haus!", dan setelah jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi perjalanan kami pun dimulai, dengan pakaian yang sama hitam ketika berjalan sama-sama kami serasa seperti Ksatria Baja Hitam yang akan pergi membasmi penjahat.

Kesatria Baja Hitam Selfie dulu.
Awalnya saya sempat diberitahu oleh Candra, "wil stasiun dekat gak jauh-jauh amat deket kok", dan bodohnya saya, langsung percaya tanpa membuktikan. Dengan menempuh jarak 500 meter menuju stasiun dengan berjalan kaki di pagi hari itu serasa seperti mencari kitab suci ke barat bersama siluman kera.

Ini nih siluman kera jadi-jadian.
Berjalan, melangkah dan menapak dengan pasti kami pun akhirnya sampai di sebuah stasiun kereta yang sudah cukup elit dibanding stasiun kereta dulunya, seperti biasa kita membeli tiket terlebih dahulu.

Kesatria Baja Hitam pada ngantri tiket di loket
Saya menyempatkan selfie didepan loket pembelian tiket dengan teman-teman yang sedang sibuk mengurusi tiket, setelah membeli tiket saya kembali bertanya-tanya dengan Candra mengenai stasiun dan kereta, pertanyaan yang saya ajukan adalah "berapa jumlah roda pada 1 buah kereta", sekejap saya diikat di rel oleh Candra untuk dilindas kereta api bermuatan 100 ekor sapi. Tiket kereta sekarang menggunakan sistem elektronik dengan menggunakan kartu tidak lagi menggunakan kertas tiket. sepertinya sistem ini sudah lama diterapkan hanya saya yang baru tahu dan kalau orang Pontianak mengatakan untuk orang yang baru mengetahui satu hal yang sudah basi akan disebut sepok! ya kala itu saya dikatakan sepok, banget!

Sakin sepoknya saya fotoin biar yang lain ikutan sepok!

Setelah menunggu beberapa menit di stasiun (Sambil selfie), kereta yang akan kami tumpangi pun menampakan batang hidungnya yang benar-benar rata. Ketika saya melihat kereta itu dari kejauhan saya sudah membayangkan hal-hal negatif terhadap transportasi yang mirip seperti ular kadut ini. Yang saya pikirkan waktu itu adalah kereta itu bakal rame, kotor, ada orang bawa ayam, ada yang main petak umpet, ada yang lagi sabung ayam dan lain sebagainya, melihat kondisi wajah saya yang sedikit canggung Candra pun memberitahukan satu hal kepada saya, "tenang aja will, inikan lagi lebaran orang-orang pada mudik, kereta bisa jadi sepi." kali ini demi menenangkan diri saya, saya pun mencoba percaya untuk kedua kalinya. kereta pun sampai di stasiun, penumpang yang akan keluar lebih didahulukan daripada penumpang yang akan masuk, saat masih ada beberapa penumpang yang keluar teman-teman sudah mengejar pintu masuk untuk mencari tempat duduk, namun sayangnya perkataan Candra salah untuk kedua kalinya dan saya juga dikibulin untuk kedua kalinya, kita rame-rame dengan penumpang lain berdiri gak karuan sambil memegang pegangan plastik yang bergantung di langit-langit kereta, tangan saya sudah terkontaminasi oleh bakteri dipegangan itu. 
Pegangan ini disebut Handle.

Candra pun mulai berkata kepada saya lagi "yang ini emang agak rame karena kereta ini sebelumnya singgah dibeberapa stasiun sebelum menuju ke sini, ntar kita transit dan pindah kereta lain jadi ada kemungkinan bisa dapat tempat duduk." ujar Candra saat itu untuk mempertanggungjawabkan perkataan dia sebelumnya, saya pun mengiyakan beliau dengan senyum asem manis. Tak lama berada di dalam kereta kami pun turun dan pindah kereta yang sebenarnya menuju Kota Bogor, saat kereta yang akan kami tumpangi sampai, semua penumpang langsung saja menyerbu kereta itu dan saling berdesakan untuk masuk layaknya seperti warga yang sedang dievakuasi karena adanya kebocoran nuklir, kami pun segera masuk dan berdesakan seperti di medan perang saya harus mencari celah untuk masuk dan mendahului lawan satu persatu, senjata pamungkas yang saya gunakan ditengah perang itu adalah tas backpacking yang sedang saya kenakan. Karena besar, tas saya mampu menghalau beberapa orang yang akan masuk dan mempermudah saya mendapatkan jalan menuju ke dalam, saya melihat Edy yang berada di depan mata, layaknya petarung Sumo dia membentangkan kedua tangannya dan memasang posisi kuda-kuda dengan kaki terbuka lebar, amazing! dengan mudahnya dia menyapu setiap penumpang supaya melewati jalan disamping dan Edy pun sampai di garis finish terlebih dahulu disusul Candra sebagai runner up dan kemudian saya di posisi ketiga, ntah mengapa ini menjadi seperti balapan Moto GP, dan akhirnya insiden yang sama terjadi, saya dan teman yang lain berdiri lagi gak karuan sambil memegang Handle plastik penuh bakteri, meskipun perkataan Candra salah untuk ketiga kalinya dan hasilnya kami harus berdiri bersama-sama lagi di dalam kereta tidak lagi menjadi sebuah masalah, saya cukup senang sudah bisa menikmati kesengsaraan ini bersama-sama, dengan mengangkat ponsel dan menyalakan kamera depan kami pun selfie bersama. Cheese!!

Say cheese! didalam kereta yang berdesakan penuh derita.
Singkat cerita, kereta pun sampai di stasiun bogor, dengan posisi yang masih berdesakan serta sudah terlihat dari jendela ada beberapa, eh bukan beberapa lagi ini sudah dikategorikan banyak! penumpang-penumpang tersebut telah menunggu diluar untuk masuk ke dalam kereta kami, pasti kejadian medan perang diawal tadi bakal terjadi sekali lagi, saya pun memberitahu Edy yang saat itu sudah siap dengan kuda-kuda Sumonya, lalu saya berbicara sebentar dengan Edy. "dy ntar kalau pintu udah kebuka, kau tendang itu penumpang lalu kau teriak, This is Sparta!!!", Edy pun mengiyakan dengan anggukan kepalanya yang pelan tapi pasti. ketika pintu terbuka kami secara ekspetasi kami ingin teriak This is Sparta!! tapi apa daya, jumlah mereka lebih banyak dibanding kami, bagai tikus curut yang keluar dari sarang itulah kami. setelah keluar dari kereta neraka kami pun mencari toilet umum untuk melepaskan dahaga kandung kemih sekaligus untuk mencuci tangan karena kami sadar tangan kami sudah dihinggap lebih dari 1 juta bakteri, after that kami langsung mencari pintu keluar stasiun, setelah keluar dari stasiun kami mulai menggunakan rencana awal kami yaitu memesan Grab Car untuk menuju taman wisata Matahari, sembari menunggu loading di aplikasi Grab, kami juga sambil mencoba icip-icip jajanan di Bogor.

Ekspresi saya yang telah dikibulin Candrawati.
Sasaran pertama yang saya coba waktu itu adalah Cimol. Sebenarnya Cimol itu makanan khas Bandung, makanan yang seperti bakso namun hanya berasa tepung kanji dengan kuah saus khas cimol lumayan untuk mengisi lambung siang itu. berita buruk datang dari Sofian, "kayaknya driver Grab gak ada yang nerima orderan ini, soalnya musim liburan gini kesana pasti macet." ujar Sofian. "coba aja deh order lagi siapa tahu ntar ada yang nerima" jawab si Candra, sambil menunggu adanyan penerimaan dari Driver kami menuju sebuah gerobak ketoprak disamping stasiun untuk makan siang sejenak, Ketoprak juga bukan makanan khas Bogor, Ketoprak aslinya berasal dari Jakarta. Dan saat itu saya kembali mencoba makanan yang mirip kayak Gado-gado itu, rasanya lumayan untuk ukuran sepiring Rp. 10000.
Cimol Cimol!

Ketoprak koplak!
Dan sepertinya kami mengurungkan niat untuk menggunakan Grab Car satu-satunya pilihan saat itu adalah menggunakan angkot menuju tempat tujuan, alih-alih Sofian yang kali ini bertugas sebagai navigator tanpa kompas tapi menggunakan smartphone dengan Google maps dan Google browser, keahlian dalam mencari informasi pun ditunjukkan, memang bocah satu ini cukup cerdas dan berbakat, sekejap saja dia mampu menemukan akses menuju taman wisata Matahari, "yang pertama kita harus menaiki angkot hijau dari terminal Sukasari kemudian naik angkot biru menuju Cisarua" jelas Sofian. "tuh ada angkot yuk langsung naik" jawab saya yang saat itu sudah gak sabaran. Angkot pertama yang kami naiki dengan kondisi yang agak penuh dan memaksa saya untuk jongkok seperti ini:
Jongkok merupakan kegiatan yang cukup membuat saya menderita!

Perjalanan ini begitu sangat menyedihkan..

Kami lalu turun dan kembali melanjutkan perjalanan dengan angkot tujuan Cisarua berwarna biru, kejar mengejar angkot seperti lari dari kejaran anjing bulldog, tanpa harus berlari jauh kami pun langsung naik angkot menuju Cisarua, dan macet pun menghadang, tapi jujur saya begitu salut dengan skill mengemudi pak supir yang cukup beringas dan sebenarnya cukup berbahaya terhadap pengendara lain, demi mengejar waktu beliau menerobos jalan perlahan-lahan dan melewati jalan tepi yang sudah keluar aspal, perumpamaan nyata dibuktikan oleh supir angkot bahwa "Waktu Adalah Uang". tanpa basa basi macet pun dibantai beliau meskipun sedikit mengguncang kami yang berada didalam waktu itu, salip sana salip sini dan kemudian pemberitahuan pak supir menenangkan kami "dek itu udah di Taman wisata matahari" beritahu si supir, "bener mas udah sampai?" tanya salah satu diantara kami, "Iya itu udah sampai" tekan si supir. dan akhirnya dengan berlutut lalu berteriak kami sampai di Taman Wisata Matahari. Kita sampai!!

Taman Wisata Matahari dari sudut kamera Xiaomi Mi 4.
 "Langsung saja!", menjadi sebuah kalimat kami begitu sampai disana, menuju loket untuk pembelian tiket, seperti paragraf pertama yang sudah saya berikan tanda kurung kenapa kami memilih tempat wisata ini karena M-U-R-A-H, Murah! tiket perorang dihargai Rp. 25000, selain itu kami juga digratiskan untuk menikmati 4 wahana bermain dan diskon 10% jika makan di resto Sunda Express.

Beda dengan wisata di Kalbar yang perorang Rp. 50000, gak ada gratisnya lagi!
Tapi permainan gratis itu saya tepis, karena saya ingin mencoba arung jeram terlebih dahulu, setelah masuk ke dalam saya pun mencoba mengajak teman-teman langsung menuju loket permainan Arung jeram. Rame menjadi kata yang mendeskripsikan kondisi saat itu, saya melihat kolam renang yang benar-benar dipenuhi oleh anak-anak, sambil menggelengkan kepala dan dalam hati berkata "kasian mereka masih kecil sudah harus mandi kolam air yang bercampur dengan zat urine" sungguh orang tua yang ironis demi kebahagiaan anaknya kesehatan jadi taruhan. tanpa menghiraukan mereka mata saya tetap menoleh ke kiri dan ke kanan mencari loket Arung Jeram, "nah ketemu!" seru saya. langsung saja saya menghampiri mbak-mbak penjaga loket, karena rame kami masuk dalam waiting list setengah jam lagi, singkat cerita kami sudah berpakaian lengkap safety seperti helm dan safety jacket. Pemandu kami saat itu orangnya cukup asik dan ramah, kami diinstruksikan seperti maju, berarti harus mendayung maju, mundur, berarti harus mendayung mundur, dan Stop berarti tidak boleh mendayung sama sekali. Begitu perahu karet kami mulai didorong menuju tengah aliran sungai kami mulai mendayung, tabrakan batu yang mengguncang kami justru membuat kami semakin seru! tapi nyangkutnya perahu ke celah-celah batu justru lebih sering kami rasakan mungkin karena posisi Edy yang saat itu seorang diri berada di tengah, lihat fotonya:

ini pas nyangkut!



Menariknya itu tanpa disadari ada sejumlah fotografer yang bertugas fotoin kita-kita tapi begitu mau di copy perfoto dihargai Rp.10000 dan kalau dicetak harganya Rp. 25000/foto. Selain Arung jeram kita juga main flying fox. harga tiket Flying Fox Rp. 25000/orang, lintasannya juga jauh dan tinggi! Sofian yang takut ketinggian tersebut kami paksa untuk ikut main juga! beliau sempat kejang-kejang sebelum terjun, ironis!.




Willy

Candrawati

Sofian

Erna

Edy
Setelah bermain Flying Fox, kami mencoba bermain perahu karet, disaat itu saya duduk di ujung perahu sembari mendokumentasikan mereka berempat mendayung perahu karet tersebut. Singgah di tempat yang berjualan makanan cemilan, tak luput kami lupakan! mencoba mengelilingi taman wisata dengan bus yang disediakan tapi harus membayar Rp. 10000/orang tak jadi masalah!, dan juga sekaligus foto-foto menjadi akhir dari permainan kami di taman wisata Matahari.

dayung mendayung di perahu karet, dan kemudian tenggelam.




Maaak kamek beli oleh-oleh.
Setelah puas bermain-main di Taman Wisata Matahari, jam juga sudah menunjukkan 17.30 wib dan tutupnya taman wisata ini adalah jam 17.00 wib kami sudah molor setengah jam, lalu kami segera menuju jalan keluar dari tempat ini, langkah jejak pun tertinggal disana menjadi sebuah kenangan seru yang pernah terukir disana bersama teman-teman. dan sekali lagi kita kembali mengejar angkot di kota hujan, kejar mengejar angkot menjadi penutup kegiatan kami, dan namanya juga kota hujan, hujan pun turun dengan deras seakan menjadi pertanda kesedihan kota Bogor dalam perpisahan kami kali ini, cielah. keseruan pun tak berakhir begitu saja didalam angkot obrolan kami yang begitu dominan diantara penumpang lain membuat salah satu penumpang yang tiba-tiba bergabung dalam percakapan kami, beliau orang Sulawesi saya gak tau namanya siapa karena kami tak sempat berkenalan. Beliau pun juga bercerita tentang tanah kelahiran beliau di Sulawesi mulai dari biji kopi sampai cerita adat istiadat upacara pemakaman disana dan tentang mayat yang bisa berjalan sendiri, serem. kami pun berpisah dengan beliau di stasiun Bogor. melanjutkan perjalanan pulang menuju Jakarta dengan menggunakan kereta neraka lagi, hanya berbekal Roti O didalam kereta yang cukup untuk mengganjal lapar kami didalam kereta dan di kereta kali ini kita bisa mendapatkan tempat duduk, dan duduk hingga sampai di Jakarta. dan juga tidak lupa kami harus berjalan kaki sejauh 500 meter dari stasiun tapi beruntung kami menemukan Bajaj, 5 orang dengan bobot 55kg/orang kecuali Edy bobotnya pasti lebih dri 55kg, kami pun masuk ke dalam bajaj sambil pangku-pangkuan, yang saya takutkan adalah bajajnya tiba-tiba standing karena berat yang lebih menekan di belakang, tidak sampai 10 menit kami sampai di apartemen dan menyempatkan diri untuk singgah di indomaret sembari bercanda dengan pelayan dan kasir indomaret. 

Terpaksa karena uang belanjaan gak cukup.
Membeli beberapa bungkus mie instant untuk makan malam kami, secara tak sengaja saya mengajak mereka untuk melakukan ritual Melepet (apa itu Melepet? baca: 4 Budak Melepet). Akhir yang menjadi akhir perjalanan kami seharian itu, Excited banget! meskipun lelah liburan kali ini sangat seru, berawal dari desak-desakan di kereta, kejar mengejar angkot, bermain di taman wisata sampai lupa umur, hingga bertemu orang Sulawesi dan menikmati rintikan hujan di kota Bogor. kenangan yang tak bisa saya lupakan meskipun capek tapi apa yang didapatkan melebihi dari jumlah bobot capek saya waktu itu. kini artikel perjalanan saya sudah terlampau sangat panjang, semoga tidak membuat anda bosan ketika membaca, dicicil juga boleh. Perjalanan benar-benar sangat menyenangkan jika kita belum tahu apa yang akan terjadi disana, begitu banyak kejutan yang kami terima membuat kami jadi lebih bersemangat! See you for next trip.