Melancong Gratis ke Pulau Dewata
Halo hai hai... welcome back to my blogger channel! sudah sekian lama saya tenggelam tanpa postingan di blog saya ini, ya meskipun blog ini hanya menjadi penikmat bagi sebagian khalayak netizen yang tidak banyak tapi sekarang kini saya akan membuat satu tulisan kembali mengenai perjalanan saya di Bali saat Agustus 2018 lalu, perjalanan dengan bayang-bayang aib dimana gue harus pura-pura membuat surat sakit di klinik dokter setempat demi selembar tiket PP menuju Denpasar hehe.. ampun ya gusti.. semoga bos gue gak baca postingan ini. Amin.
Perlu diketahui oleh netizen bahwa kali ini perjalanan gue ke Bali juga merupakan perjalanan dinas dari Kementerian Agama untuk menghadiri kegiatan Building Character yang dihadiri oleh semua perwakilan pemuda Buddhis di Indonesia dari Aceh Hingga Papua, dan perlu diketahui juga tiket ini diberikan secara cuma-cuma jadi gue cuma bawa badan, bawa koper dan bawa pomade (wajib). kebetulan dari Kalbar perwakilannya ada 2 orang, yaitu gue sendiri dan teman senusa sebangsa yang sama-sama bermata sipit dari Singkawang yaitu bu Susi (gue sebut ibu aja mumpung lu udh nikah sus!).
oke lupakan tentang kegiatan Building Character, kegiatan yang akan dibahas disini adalah kegiatan gue selama jalan-jalan ke bali dari mulai kepedesan babi guling hingga gue lari lari di bandara karena hampir ketinggalan pesawat pulang seperti kejar-kejaran di film Mission Impossible 6, jadi lets check out kita kupas satu-persatu.
Berawal dari ketemuannya gue sama susi di bandara agak sedikit gila menurut gue, dimana bu susi otw dari singkawang menuju bandara Supadio ditempuh dari jam 3 subuh menggunakan taxi, hal yang paling gue takutkan adalah kedatangan bu susi yang telat, tapi jikapun beliau telat, perjalanan tetap akan gue laksanakan hehehe.. tapi apa daya ternyata setelah gue sampai di bandara bu susi sudah sampai duluan dan seketika ketika gue nelpon "lagi dimana sus?", "aku udh di bandara depan AW". dan seketika gue melongo, taxi apa yang dia gunakan hingga bisa secepat itu sampai di bandara, tapi pastinya bukan fake taxi lol.....
lalu tak lama setelah saling sapa kita check-in menuju bandara, dan seperti biasa jika masuk bandara ada pemeriksaan x-ray dari barang bawaan hingga di "raba-raba" oleh petugas apakah ada barang tajam dalam tubuh kita (barang gue tumpul kok mas :) ), dan yang paling merepotkan adalah dimana kita, ya kita... harus ngelepas semua bentuk barang mengandung logam yang melekat dengan jasmani yang hina ini, ya salah satunya adalah ngelepas ikat pinggang, dimana celana gue mesti kedodoran sambil masuk ke bandara, setelah melalui pemeriksaan.. oke! kita bagai produk yang lolos tahap uji untuk masuk ke bandara, segera melakukan proses berikutnya.. setibanya di dalam pesawat gue dan susi duduk dengan santai sambil cengar cengir... ke bali woi! otw bali!! teriak seorang pemuda dalam hatinya yang baru pertama kali melakukan perjalanan ke bali dan GRATIS! hehehehehe... dan pesawat pun take off..
"Mayday mayday..." itu bayangan gue jika pesawat tiba-tiba terbakar, krik krik krik.. oke lupakan!
Lanjut, setiba di bandara Soekarno Hatta gue dan susi mengalami delay.. ya delay hal yang paling membosankan yang dialami kedua penumpang ini, dimana gue harus menunggu selama 2 jam untuk take off ke denpasar lagi. sembari jalan-jalan di bandara dan cek grup WA tak sengaja gue membaca bahwa salah satu teman kita dari Tanjung Pinang juga mengalami delay, dan daripada gue gak jelas di bandara melongo dan melihat orang-orang yang lewat kesana kemari gue memutuskan untuk nyari teman gue dan ketemuan. tak lama kami keluar tampak seorang gadis dengan rambut pendek menggunakan topi, ya itu dia si Nata si gadis yang lebih tua dari gue yang jago sekali menyanyi dan selalu diundang untuk mengisi banyak acara salah satunya saat Musyawarah Nasional VI di Semarang pekan lalu, temu sapa gue dimulai dari "eh udh berapa lama delay lu?"
Kemudian setelah bertemu dengan Nata, bincang-bincang hangat pun dimulai kala delay itu sudah seperti acara talkhsow "Rosi" di Net Tv saja, dan kemudian ternyata pesawat yang kami tumpangi memiliki nomor yang sama dan itu tandanya adalah kita berada dalam satu pesawat yang sama. menunggu tak tentu dan akhirnya penerbangan kedua kami dilanjutkan dengan pemberitahuan microphone di bandara, tak butuh waktu lama kami sudah berada di pesawat, dan tadi di pesawat sebelumnya gue duduk di tepi dekat jendela, dan sesuai kesepakatan gue dan susi kita ganti-gantian duduk di tepi, dan untuk yang ke Denpasar itu giliran Susi. yaah sesuai kesepakatan gue duduk di tengah.
![]() |
| Momen dimana gue numpang foto hehehe. |
Saat take off dan duduk di kursi dengan sandaran tegak, gue coba memperhatikan keadaan sekitar. melirik sana sini melihat penumpang lain, setelah dilihat-lihat emang tampak berbeda sekali penumpang-penumpang yang hendak ke Denpasar ini... sebagian dari mereka adalah turis mancanegara mulai dari yang rambutnya pirang hingga ada bapak-bapak turis yang punya bulu dada pirang juga ada! buset dah itu bulu dada di catokin juga mas tiap hari?, kemudian gue mikir lagi, emang beda penumpang yang hendak ke Denpasar ini dari segi pakaiannya gaya-gaya makhluk traveling dari yang kelas pas-pasan hingga kelas premium semua ada dalam pesawat dengan tujuan yang sama, ya tujuannya holiday! fashion style mereka nampak sekali berkelas dari ibu-ibu yang make topi wisata hingga ibu-ibu dengan baju pantainya yang sudah digunakan dalam pesawat, tapi untungnya tak ada satupun ibu-ibu yang pake bikini.
Dan akhirnya kami mendarat di Bandara I Gusti Ngurah Rai, touchdown di pulau Dewata Bali hal yang pertama gue lakukan di Bali adalah gue nyobain toilet umum di bandara dan ini sudah kewajiban, karna gue udh kebelet dari sejam yang lalu, ini sudah bagian dari ritual gue kalau udah turun dari pesawat hehe. Dan setelah itu kita menuju hotel setelah pengambilan bagasi saat mengambil bagasi, gue ketemu Ko Henty dari Jambi salam sapa mencuat di antara kami bagai saudara kembar yang sudah terpisah sejak lama dan dipertemukan kembali :)). tapi sayangnya pertemuan itu hanya sebentar saja kita pun berpisah di pintu gerbang karna jemputan yang berbeda. dan sebenarnya kami ini (gue dan Susi) numpang dengan temannya Nata yang juga cikal bakal jadi teman kami juga haha, itu dia ce Kartika orang orisinil Bali yang pekan lalu juga ikutan acara Musyawarah Nasional VI di Semarang, gue ingat saat closing ceremony mereka berdua featuring nyanyi di panggung, suaranya itu sudah bagai alunan kecapi China merdu nan ugh ugh... sejumpanya kami dengan ce Kartika, kita pun diantar menuju hotel. sepanjang perjalanan menuju hotel emang beda, Bali punya nuansa asik penuh artistik tanpa intrik intrik politik, kotanya membuat mata menggelitik tanpa ada untaian kritik dipikiran gue, Bali tak hanya sekedar "wik wik" kota ini penuh dengan landmark dan sebuah landmark yang membuat gue terpukau itu adalah patung Satria Gatot Kaca yang terletak di bagian timur bandara sungguh indah menawan.
Dari setiap ukiran patung itu sungguh penuh totalitas dari si pengukir, begitu terlewati bahkan leher ini tetap auto ngelirik ke belakang dan kemudian hilang di pelupuk mata, pemandangan tak usai begitu saja, Bali selalu punya banyak landmark yang menawan salah satunya itu GWK atau dikenal Garuda Wisnu Kencana, tinggi dan besarnya sungguh menjadi pusat perhatian bagi para turis di pulau Dewata ini (gue sudah seperti wartawan yang melaporkan laporan perjalanan hehe), tak terasa kami pun tiba di hotel setelah melalui proses check-in dan registrasi ulang, gue akhirnya dapat sebuah kamar, rehat sebentar sambil menunggu teman sekamar gue, Ko Wiwid dari jakarta yang baru saja landing di bandara dan akan tiba sekitar beberapa menit lagi ke sini, sembari itu gue rehat-rehat bentar mulai dari bujurin kaki hingga kayang-kayang gak jelas di sudut ruangan, ah sudahlah..
![]() |
| Nah ini Dia Patung Satria Gatot Kaca (sumber: Patung Satria Gatot Kaca) |
Malam pun tiba, hangout kami pun dimulai dengan berkumpulnya semua teman-teman Alumni Munas VI PATRIA kemaren di Semarang, ini sudah seperti acara reunian akbar teman-teman sekolah hehe, berawal dari jalan-jalan ke Pantai ditemani oleh beberapa teman PATRIA Bali ada Ko Kangge, Ko Adnyana, Ko Zendy, Ko Dedes, dan lain-lain yang gak bisa gue sebut satu persatu hehe. kemudian kami diajak untuk mengitari jalanan kota Kuta, kiri kanan gue lihat bar, cafe, pentas musik, 7-11 dan yang paling banyak gue lihat selain itu adalah money changer, ya karena bali penuh dengan turis-turis mancanegara, layanan Money Changer menjadi sasaran warga lokal untuk dijadikan bisnis menghasilkan rupiah dengan menukarkan uang asing ke bentuk rupiah, ibarat lu ngejual rupiah demi dapetin rupiah simplenya begitu hehe. kemudian lapar pun tiba, nasi Babi Guling yang menjadi andalan kuliner khas Bali ini menjadi target kami pada malam itu, sampai kita di warung pinggiran Nasi Babi guling kita mulai memesan makanan tersebut beginilah kira-kira bentuknya.
Nikmat tiada tara untuk menggambarkan makanan seporsi ini, tapi pedesnya itu ampun bener dah bukan level cemen, bagi kalian yang suka pedes ini jadi kulineran kalian yang wajib di Bali, rasa babi dan pedesnya nendang hingga ke urat-urat leher. bagian yang paling enak nurut gue itu kulitnya pedes-pedes tapi crispy gitu, seporsi nasi babi guling pun nikmat tersantap sudah seperti makanan surgawi bagi kami saat itu tapi pedesnya lumayan buat bibir jontor hehehe. selesai makan kita jalan-jalan lagi dan ini beneran jalan-jalan karna kita gak pake kendaraan apapun beneran jalan kaki dari sana ke sini dari sini ke sana haha, dan lebih tepatnya gua lupa arah kemana perjalanan kami malam itu, tapi yang masih gue ingat adalah ketika melalui sebuah lokasi dimana bar-bar bergelimpangan di setiap kiri dan kanan jalan raya, ya boleh dikatakan ini merupakan ajang cuci mata buat kaum adam, karena kalian lihat saja mereka semua bergoyang-goyang ria, badan meliuk-meliuk di panggung bagai belut, wanita pria semua jadi satu dalam panggung, entah mereka ngefly atau sange itu udah jadi satu kesatuan, musik dentuman DJ juga mengundang kepala gue untuk ajeb-ajeb angguk-angguk tapi semakin gue merhatiin semakin temen-temen gue berjalan makin jauh tinggalin gue, woi tunggu woi!, jalan semakin jauh gue mulai merhatiin plang-plang jualan di bali yang nurut gue itu unik dan kreatif, pengolahan kata yang bersifat marketing dengan campuran genre komedi membuat kita yang membaca itu menjadi guyonan receh namun mampu melepaskan hormon endorfin ya istilahnya buat senyum-senyum sendiri...
Asli ini yang salah satunya bikin maksa buat belanja, boleh dikatakan bali punya segudang inspirasi buat kita yang dari luar, sudut pandang gue berubah terhadap Bali yang gue tau cuma ada bule bikini tapi ternyata tak sedangkal itu, Bali punya masyarakat yang artistik penuh seni dan kreasi.. masyarakat Bali itu ramah nan bersahabat terbukti saat gue nyobain makanan sate babi bawah pohon yang terkenal banget di bali, kita dianterin oleh salah satu driver mobil sewaannya teman kita si Fang-fang dan Rudi dari Palembang, kita nimbrung dan ditawari untuk ikutan.. driver mobil itu gue lupa namanya siapa karna iya gue juga gak kenalan sama si bapak, tapi beliau ramah dan rame sekali orangnya sepanjang perjalanan bapak selalu cerita tentang histori-histori tempat yang kami akan tuju, frekuensi pembicaraan selalu nyambung dengan kami serasa bapak bisa telepati pikiran kami haha
Dan setelah habis ngebabi di sate babi bawah pohon, kita menuju destinasi selanjutnya.. apa lagi kalau bukan ke pantai untuk berburu bule bikini desiran ombak dan pesisir pantai, Pantai Pandawa jadi tujuan kami kala itu, pantai yang mantul itu, tiket masuknya murah seharga kocek jajan anak SD saja.. tak lebih dan tak kurang seharga Rp. 10.000, Pantai ini punya tebing yang erotis di antara jalanan masuk menuju pantai dan kerap kali dijadikan salah satu spot untuk foto prewedding, tebing hitam kecoklatan ini tinggi menjulang tampak seperti benteng zaman perang.
![]() |
| Beginilah penampakannya Nasi Babi Guling. |
| Ini yg jualan maksa banget :) |
![]() |
| halo bapak, sehat selalu pak! |
| Pantai Pandawa, mana pantainya? |
| ini dia Pantai Pandawa dan rombongan kami! (yang pake motor di kanan bukan) |
Sejujurnya foto ini sempat gue rahasiakan untuk diposting karena masih ada aibnya gue yang sempat gue uraikan di paragraf awal di tulisan ini hehehe tapi ya karena sudah berbulan-bulan rasanya akan aman saja hehe. Balik lagi mengulas, Pantai Pandawa itu asik penuh gemuruh ombak yang tinggi namun sepertinya bukan menjadi salah satu spot untuk peselancar, lalu disini kita bisa berjalan-jalan sepanjang pesisir pantai sambil bermain air.. dan Pantai Pandawa menjadi salah satu destinasi yang wajib masuk itinerary kalian kalau berkunjung ke Bali, kemudian esok harinya adalah hari terakhir kami di Bali dan jam boarding pesawat kami menunjuk jam 16.00 WITA, berarti kami masih bisa mengunjungi satu tempat di daerah Bali dan terpilihlah Tanah Lot, kita pun berangkat ke Tanah Lot dari jam 9 pagi, setiba disana kami cukup disuguhi dengan berbagai macam toko souvenir yang memanjakan mata dan menghipnotis pikiran kami untuk beli.. beli.. beli.., saya hanya tertarik dengan kaos tanpa lengan yang dijual cukup murah disana dengan catatan kalian harus nawar harganya juga. berjalan dan berfoto di sepanjang Tanah Lot yang selalu kami lakukan saat itu, di Tanah Lot suasana adat istiadat sangat kental disana karena ada satu daratan kecil yang dijadikan mereka sebagai tempat pemujaan kepada Dewa dan sayang sekali kita tak bisa menapak ke sana karena saat itu air laut cukup menggenang jalanan menuju ke sana, mungkin Dewa sedang tak berkenan orang hina ini untuk singgah ke sana haha.
setelah kita mengitari kawasan sakral, kami menuju ke bandara bersama teman-teman.. dan jam telah menunjukkan jam 2 siang, tersisa 2 jam lagi menuju ke bandara.. dan kecemasan saat itu tiba ketika kami melintasi jalan Kuta, dan apa yang terjadi.. iya bener.. Macet, kami terjebak macet.. disaat itu macet cukup parah dan membuat antrian mobil-mobil bagai sekumpulan badak besi kurapan yang tak berdaya.. apa daya gue cuma bisa cemas-cemas di mobil dan mulai mikir-mikir cara alternatif apabila ketinggalan pesawat, mulai dari cek tiket baru di traveloka, cek rute perjalanan yang tidak macet dan kemudian berdoa dalam mobil mengharap mukjizat.. dan Susi juga mengalami shock therapy saat itu juga sama dengan gue, kepanikan dalam mobil terjadi ketika teman-teman mulai bertanya "pesawat lu jam berapa wil?", teman yang lain pun mulai menelusuri Google Maps melihat rute tercepat dan termulus tanpa macetan, tapi ternyata tak ada jalan lain.. kami harus melalui macet ini sambil harap-harap cemas, mobil yang maju hanya setengah meter saja dari tadi makin menguatkan rasa cemas gue.. namun setelah keluar dari macet itu, banting setir ke jalan besar Sunway dan mobil pun melesat jauh dengan kecepatan tinggi jalan cukup mulus di daerah itu tampak jam sudah menunjukkan 15.45 kamipun baru saja melalui bundaran, masih penuh kecemasan dan kepanikan seketika tiba di bandara gue langsung ngeluarin koper, barang bawaan dan oleh-oleh. Susi yang masih tak kunjung sampai membuat gue makin cemas, apa gue mesti tungguin beliau? dan pilihan gue waktu itu.. gue masuk duluan untuk check in karna tak berselang lama susi mengirimi pesan chat bahwa dia bentar lagi sampai, syukur saja koper susi ada di mobil kami jadi gue bisa langsung bawain untuk masukin ke bagasi.
| Wajah hina pun tampak. |
Sambil berlari mendorong troli, tak sempat lagi mengucapkan terima kasih hanya lambaian tangan yang gue beri ke teman-teman, tapi jujur gue makasih banget buat effortnya yang udah berusaha nganterin secepat mungkin. gue pun masuk dan menuju loket check in, tak berselang lama hape gue ditelpon susi.. dan cukup lega bahwa dapat informasi beliau udah sampai di bandara gue cuma bilang "Sus cepetan masuk di loket 46 masuk belok sebelah kanan" susi pun berjalan cepat hingga berlari sambil menenteng tasnya, wajah susi pun tampak dan segera menghampiri gue.. kita pun berhasil check in tapi mendadak terpanggil final call atas nama kami, sontak kami berlari tergesa-gesa menuju pesawat dengan penuh keresahan dan kebingungan kami bagai pelaku kriminal yang dikejar-kejar FBI, melihat kanan kiri dan bertemu petugas dan menyempatkan untuk bertanya.. dan kami pun menuju gate yang tepat tapi sialnya, kami harus melakukan pemeriksaan x-ray sebelum masuk ke pesawat yang antriannya sudah memanjang lebih dari 20 orang, apa yang terjadi... kami sempat pasrah apakah ini kutukan orang banjar yang beneran akan terjadi, oh tidak bisa.. gue dan susi langsung menghampiri petugas dan meminta untuk diperiksa terlebih dahulu karena kami sudah final call, kemudian petugas langsung mengiyakan lalu gue langsung menerobos antrian, kami menjadi pusat perhatian bule-bule saat itu mungkin mereka sudah menggerutu karena kami menerobos, tapi sayangnya mereka tak merasa hentakan nafas kami sudah seperti nafas kuda karena cemas, capek, dan panik.
Pemeriksaan selesai! kami berasa merdeka sembari masih berlari menuju pesawat, susi yang sudah tampak pucat pun masih mengerahkan kemampuannya, tiba akhirnya, kami masuk menuju bis yang mengantar ke dalam pesawat. masuk, duduk dan bersandar... lalu kami saling pandang mengakhiri kejadian itu dengan tertawa.. "astaga susiiii! hahaha" teriak gue, "iya will gila dah haha" balas susi. kami akhirnya bisa bernafas lega wajah susi pun tak pucat kembali sedia kala, dan perjalanan ke Bali yang penuh adrenalin ini kami tutup dengan sebuah kegilaan dan tragedi menegangkan, seru bercampur resah semua jadi satu. dan akhirnya kami take off menuju Pontianak dan selamat hingga tempat tujuan. Bali kini jadi kenangan seru dan menegangkan bagi gue, dan kelak gue ketemu teman-teman ada banyak hal yang bisa gue ceritakan tentang Bali.
Satu kata untuk Bali bagi gue.. Bali itu ASIK!
Sekian penguraian cerita singkat namun panjang lebar ini, semoga anda terhibur dengan tulisan gue! Salam gue, Willy.







































